Sariputta | Jataka | HARITA-MATA-JATAKA Sariputta

HARITA-MATA-JATAKA


“Ketika saya berada di dalam jaring mereka,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang Ajātasattu (Ajatasattu). Ketika Mahākosala , ayah Raja Kosala, menikahkan putrinya dengan Raja Bimbisāra (Bimbisara), dia memberikan sebuah desa yang terdapat di Kāsi kepada putrinya. Setelah Ajatasattu membunuh Bimbisara, ayahnya, tidak lama kemudian sang ratu juga meninggal dunia dikarenakan rasa cintanya terhadap suaminya. Bahkan sepeninggal ibunya, Ajatasattu masih menikmati upeti dari desa tersebut. Akan tetapi, Raja Kosala menyatakan bahwa seorang pembunuh yang membunuh orang tuanya sendiri tidak boleh memiliki sebuah desa, yang merupakan miliknya sebagai warisannya, dan kemudian menyatakan perang dengannya. Kadang-kadang sang paman yang memenangkan pertempuran dan kadang-kadang sang keponakan yang memenangkannya. Ketika memenangkan pertempuran, Ajatasattu mengibarkan panjinya dan berbaris masuk ke dalam kerajaannya dalam kejayaan, tetapi ketika kalah dalam pertempuran, dia kembali ke dalam kerajaannya dengan diam-diam, tanpa memberi tahu siapa pun. Pada suatu hari, para bhikkhu duduk membicarakan masalah ini di dalam balai kebenaran. “ Āvuso , Ajatasattu bergembira ketika mengalahkan pamannya (dalam pertempuran), dan bersedih ketika mengalami kekalahan.” Sang Guru yang berjalan masuk ke dalam balai, menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. [238] Mereka memberitahukan Beliau. Beliau berkata, “Para Bhikkhu, ini bukan pertama kalinya orang ini bergembira ketika dia menang, dan bersedih ketika dia kalah.” Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor katak hijau. Pada waktu itu, orang-orang meletakkan jaring-jaring di semua lubang yang terdapat di sungai-sungai untuk menangkap ikan. Seekor ular air, yang sedang asyik memakan ikan, masuk ke dalam salah satu perangkap jaring tersebut. Sejumlah ikan berkumpul bersama dan menggigiti ular itu, sampai sekujur tubuhnya berlumuran darah. Melihat tidak ada bantuan yang bisa didapatkannya dan takut akan kematian, ular itu (menyelip) keluar dari ujung jaring, kemudian berbaring kesakitan di tepian. Pada waktu yang bersamaan, katak hijau tersebut melompat berada di depan jaring. Tidak tahu siapa yang bisa menolongnya, ular bertanya kepada katak mengenai apa yang dilihatnya di dalam jaring itu— “Teman Katak, apakah kamu senang dengan kelakukan ikanikan di sana?” dan mengucapkan bait pertama berikut:

Ketika saya berada di dalam jaring mereka, ikan-ikan menggigitiku. Katak hijau, apakah itu hal yang benar?

Kemudian katak menjawab, “Ya, itu benar. Mengapa tidak? Jika kamu memangsa ikan-ikan yang masuk ke daerah kekuasanmu, maka ikan-ikan akan memangsamu ketika kamu masuk ke daerah kekuasaan mereka. Di kediaman sendiri, di daerah kekuasaan sendiri, dan di tempat mencari makanan sendiri, tidak ada makhluk yang lemah.” Setelah berkata demikian, dia mengucapkan bait kedua berikut:

Orang-orang merampas ketika mereka masih mampu; Dan ketika mereka telah tidak mampu, mengapa mereka harus bersedih?

Setelah Bodhisatta demikian mengutarakan pendapatnya, semua ikan yang memerhatikan keadaan ular yang sudah lemah, berkata, “Mari kita habisi musuh kita!” Mereka keluar dari jaring, menggigiti ular tersebut di semua bagian sampai akhirnya dia mati, dan kemudian mereka pergi.

Setelah selesai menyampaikan uraian ini, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka:—“ Ajātasattu (Ajatasattu) adalah ular air, dan katak hijau adalah diri-Ku sendiri.”

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 2
Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com