DADDARA-JATAKA


“Wahai Daddara, siapa ,” dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu pemarah. Cerita pembukanya telah dijelaskan sebelumnya. Dalam kisah ini, di saat suatu pembicaraan dilakukan di balai kebenaran mengenai sifat pemarah dari bhikkhu tersebut, Sang Guru muncul, dan ketika para bhikkhu memberitahukan topik pembicaraan mereka untuk menjawab pertanyaan-Nya, Beliau memanggil bhikkhu tersebut dan bertanya,” Apakah itu benar, Bhikkhu, apa yang mereka katakana bahwa Anda adalah seorang pemarah?” “Ya, Bhante, itu benar,” jawabnya. Kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini, Para Bhikkhu, tetapi di masa lampau juga ia adalah seorang pemarah, dan disebabkan oleh watak penuh nafsu kemarahannya, orang bijak pada masa itu harus tinggal selama tiga tahun di tempat tumpukan kotoran yang menjijikkan walaupun mereka tetap menjalani kehidupan tanpa kesalahan sebagai para pangeran nāga (naga).

Dahulu kala ketika Brahmadatta berkuasa di Benares, keluarga Naga Daddara bertempat tinggal di kaki Gunung Daddara di daerah pegunungan Himalaya, dan Bodhisatta terlahir dalam kehidupan mereka sebagai Mahādaddara (Mahadaddara), putra dari Sūradaddara (Suradaddara), raja negeri itu, dengan seorang adik laki-laki bernama Culladaddara.

Adiknya ini adalah makhluk yang pemarah dan kejam, selalu pergi mengganggu dan menggoda para wanita naga. Raja naga memberi perintah untuk mengusirnya dari kerajaan naga. Tetapi Mahadaddara meminta ayahnya untuk memaafkannya dan menyelamatkannya dari pengasingan. Kedua kalinya, sang ayah marah sekali dengannya, tetapi lagi-lagi ia dibujuk untuk memaafkannya. Tetapi pada saat ketiga kalinya, raja berkata, “Anda telah mencegahku untuk mengusir makhluk yang tak ada baiknya ini, sekarang kalian berdua pergi dari dunia naga ini dan tinggallah selama tiga tahun di Benares di tempat tumpukan

kotoran.”

Jadi ia mengusir mereka keluar jauh dari dunia naga, dan mereka pun berangkat dan tinggal di Benares. Ketika anak-anak dari suatu perkampungan melihat mereka mencari makanan di parit yang membatasi tempat tumpukan kotoran tersebut, mereka memukul dan melempari keduanya dengan bongkahan batu dan kayu dan benda-benda lainnya,sambil berteriak keras, “Apa yang kita dapatkan disini—kadal air berkepala besar dan berekor seperti jarum?” ujar mereka untuk melecehkan mereka. Tetapi Culladaddara, karena sifat kejam dan pemarahnya, tidak bisa membiarkan pelecehan ini begitu saja dan berkata, “Saudaraku, mereka mengolok-olok kita. Mereka tidak tahu bahwa kita adalah ular (naga) yang berbisa. Saya tidak bisa menerima olok-olokkan mereka terhadap kita; akan kuhabisi mereka dengan nafas dari lubang hidungku.” Dan untuk berkata kepada abangnya lagi, ia mengulangi bait pertama berikut:

Wahai Daddara, siapa yang bisa tahan dengan hinaan seperti ini?

‘Hai, ada tongkat pemakan kodok di dalam lumpurnya,’ teriak mereka:

memikirkan bagaimana makhluk-makhluk malang ini

berani menantang ular yang mempunyai taring berbisa!

Setelah mendengar kata-katanya, Mahadaddara mengucapkan bait berikut:

Sebuah pengasingan di tempat asing haruslah menjadikan hinaan sebagai sesuatu yang berharga:

Karena tidak ada mampu mengetahui kedudukan dan kebajikannya,

hanya orang dungu yang menunjukkan keangkuhannya.

Ia yang menjadi “bintang bersinar” di dalam rumahnya,

haruslah menjadi orang rendah hati di luar (rumahnya).

Demikian mereka tetap tinggal di sana selama tiga tahun,

kemudian ayah mereka memanggil mereka kembali. Sejak hari

itu, keangkuhannya pun menjadi berkurang.

Setelah selesai menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran itu, bhikkhu pemarah tersebut mencapai tingkat kesucian Anāgāmi (Anagami):—“Pada masa itu, bhikkhu pemarah adalah Culladaddara dan saya sendiri adalah Mahadaddara.”



*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3
Kritik dan saran,hubungi : [email protected]