CHAVAKA-JATAKA


“Guru yang suci,” dan seterusnya.

Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang persaudaraan enam bhikkhu. Kisah ini diceritakan secara terperinci di dalam Vinaya. Berikut ini adalah ringkasan kisahnya.

Sang Guru memanggil keenam bhikkhu tersebut menanyakan apakah benar bahwa mereka mengajarkan Dhamma di tempat duduk yang rendah, sedangkan siswasiswa mereka duduk di tempat yang lebih tinggi. Mereka mengakui bahwa hal itu benar adanya, dan untuk mengecam para bhikkhu tersebut dikarenakan ketidakhormatan mereka terhadap Dhamma-Nya, Sang Guru mengatakan bahwa orang bijak di masa lampau mengecam orang-orang karena duduk di tempat duduk yang lebih rendah ketika mengajarkan ajarannya, meskipun itu adalah ajaran bukan Dhamma. Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau kepada mereka.

Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putra dari seorang wanita paria. Ketika dewasa, ia menjadi seorang perumah tangga. Dikarenakan sedang mengandung, istrinya mengidamkan buah mangga dan berkata kepada suaminya, “Suamiku, saya mengidamkan buah mangga.”

“Istriku,” katanya, “tidak ada buah mangga pada musim ini, akan kubawakan buah masam yang lainnya.”

“Suamiku,” katanya, “jika saya mendapatkan buah mangga, maka saya akan hidup. Jika tidak, saya akan mati.”

Ia, yang menjadi sangat bingung dengan permintaan istrinya, berpikir: “Dimana gerangan bisa kudapatkan buah mangga?” Kala itu, ada sebuah pohon mangga di kebun Raja Benares, yang selalu berbuah sepanjang tahun. Jadi ia berpikir, “Saya akan mengambil buah mangga yang masak di sana untuk memuaskan keinginannya.” Pada malam harinya, ia pergi ke kebun tersebut dan memanjat pohon mangga, melangkah dari satu ranting ke ranting yang lainnya, mencari buah mangga, sampai hari menjelang fajar. Pikirnya, “Jika saya turun dan pergi sekarang, saya akan dilihat oleh orang-orang dan ditangkap sebagai seorang pencuri. Saya akan menunggu sampai hari menjadi gelap.” Maka ia pun duduk di cabang pohon manga dan bertahan di sana.

Kemudian pada waktu yang sama, pendeta kerajaan hendak memberikan suatu ajaran kepada Raja Benares. Raja masuk ke dalam kebun untuk mendengarkan pelajarannya dan duduk di tempat yang tinggi di bawah pohon mangga tersebut, sedangkan gurunya duduk di tempat yang lebih rendah darinya.

Boddhisatta yang sedang duduk di atas mereka berpikir, “Betapa buruknya raja ini, ia sedang menerima suatu ajaran dan duduk di tempat yang tinggi. Brahmana ini juga sama buruknya, duduk dan mengajarinya dari tempat duduk yang lebih rendah. Saya sendiri juga sama halnya dengan mereka karena telah amat terlarut ke dalam kuasa seorang wanita dan, dengan menganggap hidupku ini tidak ada artinya, saya mencuri buah mangga ini.” Kemudian dengan memegang dahan yang bergelantungan, ia turun dari pohon dan berdiri di depan kedua laki-laki tersebut, dan berkata, “Paduka, saya adalah orang yang tersesat, dan kalian adalah orang yang benar-benar dungu, bahkan brahmana ini sama seperti orang yang telah mati.” Ketika ditanya oleh raja mengenai apa maksud dari kata-kata itu, ia mengucapkan bait pertama berikut:

Guru yang suci, siswa kerajaan!

saya melihat (adanya) perbuatan buruk,

keduanya seperti terjatuh dari kebajikan, keduanya seperti melampaui kebenaran.

Brahmana itu, setelah mendengarkan ini, mengucapkan bait kedua berikut:

Makananku adalah nasi yang dimasak dari beras,

ditambah dengan sedikit rasa daging;

Mengapa seorang pesalah harus mematuhi aturan yang

dibuat untuk orang-orang suci, ketika mereka makan?

Bodhisatta melafalkan dua bait berikut lagi setelah mendengar perkataannya ini:

Brahmana, pergilah sepanjang dan selebar bumi terbentang;

Penderitaan merupakan hal yang paling banyak dijumpai.

Di sini, dihancurkan oleh keburukanmu, hidupmu yang

hancur itu nilainya lebih rendah dari sebuah pot yang hancur berantakan.

Waspadailah keinginan dan ketamakan yang berlebihan:

Sifat-sifat buruk seperti ini menuntun ke “alam penderitaan”.

Merasa senang dengan pemaparan kebenarannya, raja menanyakan dari kasta manakah ia berasal. “Saya adalah seorang paria, Paduka,” katanya. “Teman,” jawab raja, “jika Anda berasal dari kasta yang tinggi, saya pasti menjadikanmu sebagai seorang raja. Tetapi walaupun demikian, saya akan menjadi raja di siang hari dan Anda menjadi raja di malam harinya.” Setelah mengatakan ini, raja mengalungkan untaian bunga yang menghiasi dirinya, dan menjadikannya sebagai pelindung kerajaan. Sejak saat itu, muncullah kebiasaan untuk memakai untaian bunga merah bagi semua pelindung kerajaan. Sejak saat itu juga, raja mematuhi nasihatnya, menghormati gurunya, dan mempelajari ajaran-ajaran darinya, dengan duduk di tempat duduk yang lebih rendah.

Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka setelah menyelesaikan uraian kisah ini: “Pada masa itu, Ānanda adalah raja, dan saya sendiri adalah pemuda paria.

*****

Sumber: ITC, Jataka Vol. 3
Kritik dan saran,hubungi : [email protected]