Sariputta | Tidak melakukan pembunuhan Sariputta

Tidak melakukan pembunuhan

👁 1 View
2017-09-22 09:09:24

Kali ini saya mengangkat kisah mengenai kamma yang dihubungkan dengan penjagaan sila pertama. Saya rasa mungkin ada juga yang mengalami problem. Dari penjagaan sila ke 1, perlahan-lahan kita mengembangkan welas asih.

Ntah percaya atau tidak. Ketika saya melanggar sila pertama yaitu membunuh makhluk hidup (bahkan semut sekalipun), akibatnya saya mendapat luka fisik, walaupun hanya luka kecil, seperti tergores. Namun itu perih juga. Menyadari diri sendiri takut terluka, sakit dan mati, hendaknya kita tak menyakiti makhluk lain dan menyebabkan pembunuhan.

Saya juga merasakannya sendiri. Ketika menjaga sila ini, saya jarang terkena luka. Kalaupun terluka, proses penyembuhan juga cepat. Daya tahan tubuh sehat dan kuat. Oleh karena itu, saya berusaha menjaga sila ini. Pembunuhan walaupun hanya sekedar semut atau nyamuk, saya sudah tak lagi berminat dan tidak menyetujui segala bentuk pembunuhan lainnya.

Pada awal Anda berlatih menghindari pembunuhan makhluk hidup, Anda mungkin hanya menganggap ini hanya sebuah larangan. Namun, seiring berjalannya waktu dan terus menjaga sila ini, maka Anda mulai merenungkan bagaimana yang terjadi jika Anda berada di posisi makhluk lain. Dari sini Anda juga turut merasakan penderitaannya, sehingga perlahan-lahan mulai tumbuh welas asih. Secara alami, Anda tak lagi berminat untuk membunuh. Watak dan batin Anda berubah menjadi lembut.

Percaya atau tak percaya, inilah yang kurasakan. Dari sini saya mengerti, kenapa ada yang sering sakit, adapula yang sehat. Disisi lain ada yang mati secara tragis, terluka dsb.

Ketika ada seseorang berkata ke saya mengenai tikus yg masuk perangkap dan berteriak cit cit cit. Orang itu kasihan melihatnya dan menasihati agar orang yang memasang perangkap tikus untuk melepasnya. Namun, orang tsbt tidak peduli dan mau membunuh si tikus karena kesal.

Mengetahui hal ini, saya juga merasakan bagaimana panik dan takutnya si tikus yang tertangkap dan mengetahui ia akan terbunuh, walau saya tak melihatnya secara langsung. Saya lalu sms panjang lebar kepada orang yg memasang perangkap tikus. Inti pesan tersebut adalah agar ia mau melepas keluar tikus itu. Tapi, ia tidak mau menuruti nasihat saya. Akhirnya tikus pun mati dengan tragis.

Mungkin Anda-Anda membenci tikus. Namun, sifat alamiah tikus memang seperti itu. Menggigit barang2, karena jika ia tidak mengerat, maka giginya akan terus memanjang sampai akhirnya akan terbunuh sendiri karena giginya. Maka dari itu, ia mengerat. Demikianlah buah kammanya terlahir dengan kondisi seperti itu. Kita yang sudah paham akan hal ini, hendaknya bisa menerima dan memakluminya.

Coba dipikir saja. Apa untung dengan membunuhnya? Dalam kasus ini adalah tikus. Lebih baik cari cara bagaimana agar tikus tidak masuk ke rumah. Itu lebih tepat. Kita sebagai manusia hendaknya mencari akal, solusi yang terbaik tanpa menyakiti makhluk lain. Bukan sekedar duduk pasrah membiarkan hewan pengerat merusak barang, itu bukan hal yang bijak. Disini kita mencari jalan tengah. Demikianlah kita menyeimbangkan kebijaksanaan dan welas asih dalam keseharian sehingga kita dapat hidup berdamai dengan diri sendiri dan makhluk lainnya.

Terlihat seolah-olah mati hidupnya tikus itu ada di tangan kita. Karena kita adalah makhluk yang lebih tinggi daripadanya. Namun, ingatlah ada makhluk yang lebih tinggi daripada kita juga. Sesama manusia pun ada derajat sosial. Seolah-olah yang punya kedudukan tinggi yang berkuasa. Kenyataannya memang seperti itu. Dan lagi-lagi kita bisa bertemu satu sama lain, itu karena ada ikatan atau jodoh kamma di masa lalu.

Kamma memang kompleks dan bukan sekedar dalam garis linear. Hanya Buddha yang mengetahui cara kerja kamma. Mungkin kammanya si tikus harus mati dengan cara tragis. Buah kamma yang telah masak memang tak bisa dihindari. Namun hal ini bukanlah pembenaran bahwa ia harus dibunuh dengan tragis demi menanggung kamma masa lampaunya sendiri.

Ketika kita membunuhnya berarti kita telah menanam kamma buruk bagi diri sendiri yang suatu saat akan berbuah penderitaan. Oleh karena itu, dalam kasus di atas, pilihan ada di tangan kita. Apakah mau membunuh atau menyelamatkannya.

Ketika kita membunuh walau hanya binatang sekalipun, disaat itu pula kita menjadi bengis. Batin berubah menjadi jahat karena niat untuk menghancurkan hidup makhluk lain.

Apakah Anda mau mengotori batin menjadi bengis dan kasar? Apakah perbuatan ini baik? Hati nurani kita bisa menilainya sendiri.

Ketika kita susah dan menderita, ada orang-orang yang masih meminta pertolongan pada Tuhan/Dewa. Namun jika kelakuan kita sendiri buruk, apakah yang diatas akan membantu? Mungkin bagi si tikus yang tak berdaya tadi menganggap kita adalah dewa, dan berharap untuk dibebaskan. Ketika kita membebaskannya, namun jika kamma si tikus memang berbuah kematian yang tragis, maka ia akan mati, tapi bukan di tangan kita! Tikus mati dengan tragis karena perbuatan buruk di masa lalu sudah masak. Inilah hukum kamma bekerja dengan adil. Oleh karena itu, kita tak perlu mengotori batin seolah-olah menjadi hakim untuk menghukum. Biarlah hukum kamma yang bekerja.
Ingatlah. Apa yang kita perbuat, itu merupakan kamma aktif yang suatu saat akan berbuah.

Tak ada satu makhluk pun yang bisa menghindari kamma yang berbuah. Tak di langit, di goa, di laut, tak ada yang bisa menghindar. Mungkin saat ini kita merasa baik-baik saja selama kamma buruk belum berbuah. Demikianlah orang bodoh terus melakukan perbuatan buruk. Namun ketika kammanya berbuah, orang tersebut baru merasakan sakit dan betapa menderitanya.

Biasanya ketika sedang susah, orang baru mau berdoa dan memelas. Apa salahku sehingga menderita seperti ini? Kebanyakan orang lupa apa yang telah diperbuatnya.

Kamma yang berbuah tidak akan salah orang dan tempat. Kamma akan berbuah langsung tepat pada sasarannya.

May all beings be well, happy, peaceful and free from suffering.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com