Sariputta | Tanggung Jawab Orangtua oleh Sri Sri Dhammannanda (kutipan buku tanggung jawab bersama ) Sariputta

Tanggung Jawab Orangtua oleh Sri Sri Dhammannanda (kutipan buku tanggung jawab bersama )

👁 1 View
2019-07-29 14:03:20

Seorang anak pada masa pertumbuhannya memerlukan kasih sayang, perawatan, dan perhatian orangtua. Tanpa kasih sayang dan bimbingan orangtua, seorang anak akan menjadi cacat secara emosional dan dunia akan menjadi tempat yang tidak bersahabat baginya untuk hidup. Melimpahkan kasih sayang orangtua bukanlah berarti memenuhi segala keinginan anak, baik yang perlu maupun yang tidak masuk akal. Terlalu memanjakan anak merusak anak itu. Seorang ibu dalam memberikan kasih sayang seharusnya bersikap tegas tetapi lembut dalam menghadapi anaknya yang ‘ngambek’. Nyatakan kasihmu dengan ketegasan, maka anakmu akan mengerti.

Sayangnya, di dalam masyarakat modern ini, kasih sayang orangtua terasa langka. Kemajuan di bidang materi dan prinsip persamaan hak antara pria dan wanita telah membuat banyak ibu terjun ke dunia suami mereka. Ibu-ibu bekerja keras di kantor dan tempat usaha, dan bukannya berada di rumah untuk memperhatikan perkembangan anak-anak mereka.Anak-anak yang ditinggalkan bersama anggota keluarga lain atau pengasuh anak, dan juga anak-anak yang mengurus dirinya sendiri di rumah dengan fasilitas yang serba ada, seringkali kekurangan kasih sayang dan perhatian ibu mereka.

Kemudian ibu yang merasa bersalah berusaha menggantikannya dengan memenuhi semua kemauan si anak. Perbuatan ini hanyalah akan merusak si anak.Memberikan mainan canggih yang tidak membangun karakter kepada anak seperti tank, pistol, pedang, dan sebangsanya secara psikologis dapat memberikan efek buruk. Si anak secara tidak langsung diajarkan tentang kekerasan dan bukannya tentang kebaikan, cinta kasih dan perbuatan baik. Anak tersebut cenderung akan mengembangkan sifat kekerasan pada saat dewasa. Memberikan mainan seperti itu tidaklah dapat menggantikan kasih sayang dan perhatian seorang ibu.

Seorang anak berhak dipenuhi kebutuhan materialnya, tetapi yang lebih penting lagi adalah kebutuhan rohani dan mental. Pemenuhan kebutuhan materi adalah prioritas kedua jika dibandingkan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian orangtua.Kita dapat menemukan keluarga-keluarga yang secara ekonomi kurang mampu tetapi dapat membesarkan anak-anak mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, banyak keluarga-keluarga kaya raya yang melimpahi anak-anak mereka dengan materi, tetapi karena kekurangan kasih sayang dan perhatian orangtua, anak-anak itu kemudian tumbuh menjadi orang-orang yang bermasalah mental dan moral.

Beberapa wanita mungkin merasa bahwa tuntutan untuk sepenuhnya berada di rumah untuk kepentingan keluarga adalah suatu kemunduran dan cara berpikir kuno dan kolot. Memang benar bahwa pada jaman dahulu banyak wanita yang telah diperlakukan dengan buruk, tetapi ini lebih disebabkan karena kebodohan kaum pria dan bukannya mencerminkan kelemahan kaum wanita. Kata sansekerta untuk ibu rumah tangga adalah ‘gruhini’ yang arti harafiahnya adalah ‘pemimpin di rumah’. Tentunya ini tidak menunjukkan bahwa wanita adalah kaum lemah, tetapi lebih mencerminkan pembagian tanggung jawab antara pria dan wanita.

Di negara-negara tertentu, banyak suami yang menyerahkan amplop gajinya kepada istri-istri mereka yang mengatur urusan rumah tangga. Dengan demikian para pria ini dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya. Karena setiap orang tahu dengan jelas tanggung jawab masing-masing, maka tidak ada bentrokan di antara mereka. Suasana di rumah menjadi nyaman dan damai bagi anak-anak untuk bertumbuh dengan baik.Tentu saja, sang suami harus memerhatikan kebutuhan pendampingnya, memberikan bimbingan atas setiap keputusan keluarga, memberikan ruang gerak baginya untuk mengembangkan potensi dirinya dan memberikan waktu luang untuk melakukan kegemarannya.

Dalam pengertian ini, suami dan istri sama-sama bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga mereka. Mereka bukanlah saingan.Seorang ibu harus mempertimbangkan dengan hati-hati apakah dia terus menjadi ibu yang juga bekerja di luar rumah dengan segala kekurangannya atau menjadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya memberikan kasih sayang dan perhatiannya bagi anak-anaknya.

Perilaku modern ibu-ibu yang bekerja, terhadap anak-anak mereka cenderung mengikis budi pekerti luhur yang seharusnya dijunjung tinggi oleh anak-anak. Penggantian susu ibu dengan susu botol juga merupakan salah satu penyebabnya. Dahulu, jaman ibu-ibu masih menyusui dan menggendong bayi-bayi mereka, tali kasih antara ibu dan anak sangatlah erat. Ibu yang menyusui, melalui peranan seorang ibu, sering merasakan kepuasan yang besar karena mengetahui dia telah memberikan yang terbaik dari dirinya sendiri untuk anaknya yang tidak dapat digantikan dengan apapun. Pengaruh baik antara ibu atas anaknya ini mendorong pertumbuhan yang baik dari anaknya. Dalam lingkungan seperti ini, budi pekerti, hubungan keluarga dan ketaatan selalu ada.
Tradisi seperti ini adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan anak. Orangtua bebas memutuskan, terutama kaum ibu, untuk memberikan kasih sayang, perawatan dan perhatian kepada anaknya sebagai hak mereka. 
Sumber : Buku Tanggung jawab bersama

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com