Sariputta | Malangnya Saya, Untungnya Mereka : Sariputta

Malangnya Saya, Untungnya Mereka :

👁 1 View
2019-08-01 13:33:43

Kehidupan sebagai biksu junior di Thailand serasa begitu tidak adil. Biksu senior mendapatkan makanan terbaik, duduk di tempat paling empuk, dan tidak perlu mendorong-dorong gerobak sorong. Sementara, satu-satunya makanan harian saya tidak mengundang selera; saya harus duduk berjam-jam dalam sebuah upacara di lantai semen yang keres (yang juga tidak rata, karena penduduk desa payah dalam menyemen); dan kadang-kadang saya harus bekerja sangat keras. Malangnya saya, untungnya mereka.Saya menghabiskan waktu yang lama dan tidak menyenangkan untuk memikirkan keluhan saya. Biksu senior mungkin sudah begitu tercerahkan, jadi makanan enak percuma saja bagi mereka, seharusnya saya mendapat makanan terbaik. Biksu senior sudah terbiasa duduk bersila di lantai keras selama bertahun-tahun, karena itu sayalah yang
seharusnya duduk di tempat empuk. Lebih lanjut, biksu senior gemuk-gemuk karena makan makanan yang enak-enak, jadi sudah memiliki "bantalan alam" sendiri. Biksu senior cuma bisa omong bahwa biksu junior harus kerja, tetapi mereka sendiri tak pernah kerja., jadi bagaimana mereka bisa mengerti betapa panas dan capainya mendorong kereta sorong itu? Proyek-proyek itu adalah gagasan mereka, jaid seharusnya merekalah yang bekerja! Malangnya saya, untungnya mereka,.Ketika saya sudah menjadi biksu senior, saya makan-makanan terbaik, duduk di tempat yang empuk, dan hanya sedikit bekerja fisik. Namun, ternyata saya malah iri kepada biksu-biksu junior. Mereka tidak perlu memberikan ceramah, tidak perlu seharian mendengarkan keluhan umat, dan tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk urusan administrasi. Mereka tidak banyak tanggung jawab dan mereka punya begitu banyak waktu luang. Saya jadi berpikir, "Malangnya saya, untungnya mereka!"Segera saya tersadar apa yang terjadi. Biksu junior memiliki "derita biksu junior". Biksu senior memiliki "derita biksu senior". Sewaktu saya menjadi biksu senior, saya hanyalah mengganti satu bentuk derita ke bentuk derita lain. Ini persis sama untuk para bujangan yang iri kepada mereka yang sudah menikah, dan mereka yang sudah menikah iri kepada mereka yang masih bujang. Dari sini kita seharusnya mengerti sewaktu kita menikah, kita hanyalah mengganti "derita bujangan" dengan "derita orang kimpoi". Sewaktu kita bercerai, kita hanyalah mengganti "derita orang kimpoi", dengan "derita orang yang tidak lagi kimpoi". Malangnya saya, untungnya mereka.Sewaktu kita miskin, kita iri kepada mereka yang kaya. Namun, banyak orang kaya yang iri kepada persahabatan tulus dan keterbebasan dari beban tanggung jawab yang dipunyai oleh mereka yang miskin. Menjadi kaya hanyalah mengganti "derita orang miskin" dengan "derita orang kaya:. Pensiun dan penurunan penghasilan hanyalah mengganti "derita orang kaya" dengan "derita orang miskin". Begitu seterusnya.... Malangnya saya, untungnya mereka.Berpikir bahwa Anda akan bahagia dengan menjadi sesuatu yang lain, hanyalah khayalan. Menjadi sesuatu yang lain hanyalah mengganti satu bentuk derita ke bentuk derita lainnya. Namun, saat Anda merasa berkecukupan dengan apa adanya diri Anda, junior atau senior, kimpoi atau bujang, kaya atau miskin, maka Anda terbebas dari derita. Untungnya saya, Malangnya mereka.
sumber : Buku Si Cacing & Kotoran Kesayangannya (1)

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com