Sariputta | Kenikmatan pangkal kemelekatan oleh Sri Pannyavaro Sariputta

Kenikmatan pangkal kemelekatan oleh Sri Pannyavaro

👁 1 View
2019-08-10 09:33:27

Saya akan memulai dari sila. Ini latihan yang pertama. Mengapa kita harus mencegah diri kita, mengendalikan diri kita untuk tidak melakukan perbuatan –perbuatan yang buruk?
Anda tentu sudah dangat sering mendapatkan bimbingan,penjelasan, bahwa perilaku yang buruk itu selalu merugikan orang lain dan merugikan diri sendiri.

Jika anda melakukan perbuatan yang buruk,barangkali dengan membunuh,menyakiti, mencuri, menipu, berbohong, dan lain lain, maka ada orang lain yang menjadi korban, selain itu keburukan anda pun bertambah.

Lalu bila anda tidak melakukan perbuatan buruk itu, melainkan hanya berpikir saja, sebenarnya yang dirugikan hanya diri sendiri. Keluarga, suami,istri,anak,lingkungan orang lain, tidak dirugikan, karena anda tidak melakukan yang buruk. Dengan memikirkan yang buruk, ketegangan hanya ada di dalam pikiran anda. Anda yang rugi. Orang lain tidak rugi.

Mengapa kita tidak boleh berbuat buruk? Karena saat kita berbuat buruk,yang jelek, apalagi jika di ulang, di ulang,diulang, maka yang buruk,yang jelek itu akan menjadi KEBIASAAN.

ketika sudah menjadi kebiasaan, maka kebiasaan itu akan terus memanggil-memanggil : Ayo Lagi....Ayo, Ayo lagi... Anda pun menjadi ketagihan . Di dalam bahasa Dhamma disebut melekat ‘Upādāna’ . Kemelekatan terhadap perilaku yang buruk. “Bhante, mengapa yang buruk membuat kita ingin mengulang lagi?padahal itu buruk.”
“ Karena yang buruk -buruk itu memberikan kenikmatan,saudara.” Bila yang buruk itu tidak memberikan kenikmatan,maka kita tidak akan mengulang lagi. Tetapi, kalau yang buruk-buruk itu memberikan kenikmatan kita ingin melakukannya lagi. Kenikmatan itu yang membuat melekat,membuat ketagihan. 
contoh pengulangan yang kuat :
Seorang karyawan , setiap dia mendapatkan tugas , dia mengatur sesuatu. Misalnya belanja habis 500 rb. Dia atur supaya dia bisa dapat paling tidak 10 rb.
sampai tingkatannya naik, kedudukannya naik , gajinya lebih, makin mengatur semakin besar, misalnya proyek 500 juta dia mencari cara untuk mengambil 5 juta hingga 10 juta. Gajinya tidak kecil tetapi kelakuannya itu telah menjadi habit ’ kebiasaan’
“mengapa,Bhante?”
“Karena nikmat, Saudara.”
Dikarenakan sesuatu itu menyenangkan, Berhasil jadi dia akan mengulang lagi,mengulangi lagi. Andai sampai dia tidak mendapatkan hasil untuk dirinya sendiri, dia tidak bisa tidur.

sumber : Buku Melihat kehidupan ke dalamnya 

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com