Sariputta | Jangan Masuk Keheningan Oleh Ajahn Chah (kutipan Buku Ini Pun Akan Berlalu ) Sariputta

Jangan Masuk Keheningan Oleh Ajahn Chah (kutipan Buku Ini Pun Akan Berlalu )

👁 1 View
2019-08-01 13:30:16

Ketika saya masih muda, saya mencari kedamaian dengan cara yang salah. Saya akan duduk untuk berlatih samadhi', dan batin saya tidak akan tenang. Batin saya berlarian liar, dan tak peduli bagaimana saya mencoba membawanya kembali, batin saya tak mau kembali. Jika pun kembali, batin ini tidak mau diam. 
Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya berhenti bernapas? Saya pernah mencobanya. Saya menahan napas untuk mencoba dan memaksa batin untuk berhenti bergerak. Namun batin masih saja pergi. Saya akan menahan napas lebih lama, namun satu-satunya hal yang muncul dari menahan napas makin lama adalah: saya akan mati. 
Ini mirip dengan ketika saya merasa meditasi saya terusik oleh suara-suara. Saya akan menyempal telinga saya dengan lilin. Saya benar-benar menyumbat telinga rapat-rapat, sehingga saya tidak bisa mendengar apa pun. Kelihatannya ini baik tidak ada lagi suara dari luar yang mengganggu saya namun saya mulai memikirkannya: jika tidak mendengar atau tidak melihat apa pun adalah jalan para tercerahkan, maka yang tuli harusnya tercerahkan semua. Yang buta harusnya tercerahkan semua. Yang tuli total harusnya jadi araha.

Jadi saya renungi ini sampai saya mendapatkan beberapa pemahaman. Saya menyadari bahwa hanya mencoba menghalangi segala sesuatu tidaklah benar-benar melindungi Saya, jadi saya berhenti melakukannya. Saya menyadari Bahwa hanya saya dan kelekatan sayalah yang menyebabkan Masalah. Jadi kini saya punya banyak penyesalan. Ketika saya memikirkan mengenai cara saya berlatih ketika masih pemula dalam meditasi, betapa saya terkecoh, saya merasa benar-benar sedih. Saya ingin berlatih untuk bebas dari duka, namun saya hanya membawa duka bagi diri sendiri, dan hasilnya adalah tidak pernah ada kedamaian bagiku. 
Ketika batin menjadi hening, kita gembira. Jika kita mendapat beberapa hari kedamaian darinya, kita merasa ini benar benar nikmat. Kemudian suatu hari, tiba-tiba rasanya seperti duduk di atas sarang semut yang menggigit. Kita tidak bisa duduk, kita tidak bisa melakukan apa pun, batin begitu liar dan bergolak. jadi kita merenung dan mencoba mencari tahu mengapa batin tidak seperti sebelumnya. Batin begitu damai selama hari-hari yang lalu itu, dan kita hanya bisa merindukan kembalinya pengalaman itu lagi. 
Di sinilah kita terkecoh. Keadaan batin berubah. Mereka tidak tetap, pasti, atau stabil. Itulah sifat mereka; selalu akan demikianlah adanya. Apa pun yang terjadi adalah sesuatu yang sudah kuno; mereka bukan hal yang berbeda atau unik, namun diatur oleh sifat-sifat yang sama ini. Kita harus terus melihat reaksi-reaksi batin, cara menyukai sesuatu dan tidak menyukai yang lainnya. Ketika kita mendapat kesukaan, kita merasa senang, dan rasa senang ini hanya muncul karena khayalan; bukan karena kita benar.

Jika Anda hening,jangan mabuk pada keheningan. Jika batin Anda kacau, jangan mabuk pula. Buddha mengajari kita untuk tidak teracuni. Ini berlaku bagi semua pengalaman tanpa kecuali. Jika kita selalu ingin lebih dan lebih, maka kita selalu berada dalam kondisi terganggu. Sehingga Buddha mengata kan bahwa tidak ada kebijaksanaan dalam samatha belaka, meditasi keheningan.Dalam praktik samatha ini, pertama kita mungkin hening karena kita terpisah dari obyek-obyek indra eksternal, Tidak mendengar suara, tidak mengalami obyek-obyek indra lainnya, kita bisa menjadi damai. Itu baik dalam caranya sendiri. Ini karena kita telah melarikan diri dari segala sesuatu untuk sementara. Ini seperti penyakit tertentu, seperti kanker. Kanker mungkin tidak terketahui selama beberapa lama; tidak ada gejala, seperti sakit atau bengkak, jadi orang merasa baik-baik saja selama penyakit itu belum mewujud. Itu sama dalam keadaan samatha dan tidak mengetahui apa-apa, merasa bahwa kita tidak memiliki kotoran batin. Namun ketika kita meninggalkan lingkungan hening dan mulai bertemu dengan pemandangan dan suara, kita bisa terusik oleh segala sesuatu itu. Jadi pada saat itu apa yang bisa Anda lakukan? Di mana Anda bisa tinggal di dunia ini? Tempat Anda bisa pergi tanpa melihat, mendengar, mencium, merasakan, atau memiliki kontak fisik dengan apa pun? 
Buddha ingin mata kita melihat pemandangan, telinga kita mendengar suara, hidung kita mencium bebauan, lidah kita mengalami citarasa, tubuh kita mengetahui keras dan lembut, dingin dan panas. Ia ingin kita memiliki semua pengalaman ini. tidak hidup dalam pengucilan total. Ia ingin kita mengalami segala sesuatu ini dan menyadari, "Aha! Inilah segala sesuatu Sebagaimana adanya.” Inilah bagaimana kita bisa tiba pada kebijaksanaan. Bahkan jika kita tidak melakukan meditasi duduk dan berjalan sepanjang waktu, batin masih akan sadar dan berada di jalurnya, berlatih dengan penuh daya tanpa ada penurunan atau kemunduran. Orang yang piawai akan berlatih Dhamma dalam cara ini. 
Pernahkah Anda melihat master-master meditasi zaman dahulu? Mereka tidak peduli dengan segala sesuatu. Kita benar- benar tidak bisa memahami ketenangseimbangan mereka. Ini karena batin mereka dingin dan mereka punya pengetahuan. Kapan pun duka mendekat, itu tidak menggoyahkan mereka. Ketika kebahagiaan datang, itu tidak menggoyahkan mereka. ”Jangan merepotkanku, anak kecil!” Itulah cara mereka memandang suka dan duka. Ketika ketidakbahagiaan datang-"jangan merepotkanku, anak kecil Mereka dewasa; kotoran batin hanya bisa duduk di sekitar mereka tanpa daya. Kita melihat mereka dan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa seperti itu. Batin kita sendiri menjadi panas terhadap hal - hal seperti itu. Jadi diajarkan agar kita sebaiknya menemukan guru spiritual yang matang dan mengambil teladannya sebagai landasan, merenunginya selama waktu yang lama.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com