Sariputta | Buddha Tidak Mati Oleh Ajahn Chah (Kutipan Buku Ini pun Akan Berlalu) Sariputta

Buddha Tidak Mati Oleh Ajahn Chah (Kutipan Buku Ini pun Akan Berlalu)

👁 1 View
2019-08-09 13:55:38

Mari kita renungi tema kefanaan kita dengan benar, Renungi dan lihat ke dalam sampai kita bisa berpikir lebih mendalam-seperti, bagaimana hidup kita akan berubah mulai saat ini dan seterusnya? Apa yang bisa kita lakukan mengenai hal ini? 
Orang-orang dungu menangisi kematian. Mereka tidak menangisi kelahiran. Namun dari manakah kematian datang? Bukankah kematian datang dari kelahiran? Jika Anda menangisi orang-orang mati, Anda seharusnya menangis ketika orang-orang lahir. Begitu ada orang lahir, langsunglah menangis: ”Oh tidak, dia sudah datang lagi! Dia akan mati lagi!” Bicaralah seperti itu-lebih tepat seperti itu. . 
Namun kini kita mencoba menggunakan hal-hal seperti sihir, doa, mantra untuk menghalau kematian. Apa maksudnya itu? Mengapa kita tidak mencoba menyelesaikan masalah di sumbernya, yaitu kelahiran? Ini seperti petinju yang giginya telah dipukul rontok, baru menunduk. Anda harus menunduk sebelum kematian meninju Anda. Hal-hal ini tidak berguna; Buddha telah mengajarkan hal ini. 
Buddha mengajarkan bahwa, setelah terlahir, kita seharusnya mencari jalan untuk meloloskan diri dari kematian. Buddha tidaklah mati! Para arahanta (mereka yang telah mencapai pembebasan) tidaklah mati! Mereka tidak mati seperti orang atau hewan pada umumnya. Ketika kematian mendatangi mereka, mereka semua akan tersenyum. Mereka akan lega, karena mereka tidak mati. Ini adalah segala sesuatu yang tidak orang-orang pahami. Mereka tidak dapat melihatnya, Buddha tidak mati. Para arahanta tidak mati. Tanah, air, api, udara, empat unsur, semata-mata terpisah; tiada orang dalam hal-hal ini. Jadi kita mengatakan para tercerahkan tidak mati. Mereka tidak lahir, mereka tidak menua, mereka tidak jatuh sakit, mereka tidak mati. Nafsu, amarah, dan khayalan tidak terlahir di dalam mereka lagi.

Ketika mereka masih hidup, badan mereka bukanlah milik mereka atau diri mereka. Mereka hanyalah gugus tanah, air, api, dan udara, dan kemudian hal hal itu sekadar terurai dan terberai. Mereka tidak melekat pada pandangan bahwa ada orang dalam unsur-unsur. Hal-hal itu tidak memengaruhi mereka, sehingga kita mengatakan bahwa mereka tidak mati. Namun kita bergantung pada gugus-gugus ini. Kita menyebut mereka sebagai seseorang. Kita mempercayai gugus-gugus ini sebagai kita dan orang lain, dan ketika mereka terurai kita berpikir bahwa kita mati, sehingga kita menderita. Orang-orang yang tercerahkan tidak menderita karena hal ini. Mereka menyebutnya kotoran. Seonggok kotoran! Dengan melihat bahwa hanya ada tanah, air, api, clan udara, mereka menaklukkan kematian.
https://www.instagram.com/p/B07ehhcAYYB/…

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com