Sariputta | Ungkapan Dewa I Sariputta

Ungkapan Dewa I

Bhikkhu Revata

👁 1 View
2017-09-18 23:17:21

Tidak ada yang terjadi tanpa sebab. Setiap akibat memiliki penyebabnya. Mereka yang terlahir kembali di alam manusia
atau alam dewa disebabkan perbuatan baik masa lalu. Perbuatan baik seperti melakukan dàna, menjaga moralitas dan mempraktikkan meditasi menyebabkan munculnya kondisi untuk terlahir di alam manusia atau dewa. Perbuatan tidak baik, di sisi lain, menyebabkan munculnya kondisi untuk kehidupan di alam menyedihkan di antara makhlukmakhluk neraka, binatang atau hantu kelaparan.

Perbuatan baik memberikan hasil yang baik. Perbuatan tidak baik memberikan hasil yang tidak baik.

Itulah sebabnya Sang Buddha berkata:
“Tidak benar bahwa perbuatan baik dan
tidak baik memberikan hasil yang sama.
Perbuatan baik mengarah ke alam yang baik;
perbuatan jahat mengarah ke alam yang buruk.”

Perbuatan yang kita lakukan sekarang membuat atau menyebabkan munculnya kondisi di mana kita akan berada di masa depan. Konsekuensi dari perbuatan tersebut menentukan masa depan. Kita boleh mengharapkan hasil yang menyenangkan seperti terlahir di alam manusia atau dewa.
Adalah perbuatan kita, bukan harapan kita, yang menentukan hasilnya.

Sebagai manusia, kita tahu tentang alam manusia.

Namun, tidak banyak yang kita ketahui tentang alam dewa. Mari kita pelajari perbedaan mereka dengan membandingkan kedua alam tersebut.

Tidak seperti manusia, dewa tidak perlu melalui 9 atau 10 bulan masa kehamilan di dalam rahim seorang ibu. Pada saat kemunculan mereka di alam dewa, mereka langsung lahir seutuhnya, dengan tubuh seorang dewasa.

Dewa, seperti manusia, adalah pewaris perbuatan baik mereka sendiri di masa lalu. Namun, mereka menikmati kesenangan nafsu indera yang jauh lebih unggul daripada yang dialami oleh manusia, sehingga tidak mungkin membuat suatu perbandingan.

Keindahan, suara, bebauan, rasa dan sentuhan yang paling menakjubkan yang dialami manusia tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan keindahan dan kesenangan nafsu indera yang agung di alam dewa.

Supaya bisa lebih mengerti gambaran tentang alam dewa, saya mengutip dari Sutta Màgandiya di Majjhimà Nikàya.

Di sini Sang Buddha berkata:
“Màgandiya, Misalnya seorang perumah tangga atau putra perumah tangga yang kaya, dengan kekayaan dan harta yang luar biasa, dengan tersedianya lima tali kesenangan
nafsu indera, dia bisa menikmati untuk dirinya sendiri bentuk-bentuk yang dapat dikenali oleh mata; yang diharapkan, yang
diinginkan, menyenangkan, dan disukai, yang berhubungan dengan hasrat dan nafsu akan kesenangan indera. Dia bisa menikmati suara yang dikenali oleh telinga ... dengan bebauan
yang dikenali oleh hidung ... dengan rasa yang dikenali oleh lidah ... dengan sentuhan yang dikenali oleh tubuh ... yang diharapkan, yang diinginkan, menyenangkan, dan disukai,
yang berhubungan dengan hasrat dan nafsu kesenangan indera. Setelah melakukan perbuatan baik dengan tubuh, ucapan, dan pikiran, pada saat berakhirnya jasmani tersebut, setelah kematian, ia akan terlahir kembali bersama dengan dewa-dewa di alam Tiga puluh tiga-dewa.

Di sana, dikelilingi oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, ia akan menikmati lima tali kesenangan nafsu indera.

Seandainya ia melihat perumah tangga atau putra perumah tangga yang sedang menikmati lima tali kesenangan nafsu indera. Bagaimana menurutmu, Màgandiya? Apakah sang dewa
muda yang dikelilingi oleh sekelompok bidadari di Hutan Nandana, yang menikmati lima tali kesenangan nafsu indera yang agung, akan iri kepada perumah tangga atau putra perumah tangga atas lima tali kesenangan nafsu indera manusia atau apakah ia akan tertarik dengan kesenangan nafsu indera manusia?”

“Tidak, Guru Gotama. Mengapa tidak? Karena kesenangan nafsu indera surgawi lebih baik dan agung daripada kesenangan nafsu indera manusia.“

Kita sekarang bisa memahami bahwa bahkan kesenangan nafsu indera manusia yang paling hebat, bisa dikatakan hanya biasa-biasa saja, jika dibandingkan dengan kesenangan nafsu indera yang dinikmati mahkluk surga.

Lebih lanjut, rentang hidup manusia sangat pendek jika dibandingkan dengan rentang hidup dewa.

Menurut Sang Buddha: “Bhikkhu, lima puluh tahun waktu umat
manusia hanyalah satu hari satu malam bagi Empat Dewa Agung; satu bulan mereka terdiri dari tiga puluh malam, satu tahun mereka terdiri dua belas bulan.”

Bhikkhu, setiap seratus tahun waktu manusia hanyalah satu hari satu malam untuk para dewa di alam Tiga puluh tiga-dewa; satu
bulan mereka terdiri dari tiga puluh malam, satu tahun mereka terdiri dua belas bulan.”

Betapa sangat pendeknya rentang hidup manusia!
Dibandingkan dengan rentang hidup dewa, rentang hidup kita hampir tidak lebih dari sepersekiannya.

Namun, meskipun umur mereka sangat panjang, mereka suatu hari juga harus mati.

Dewa mati karena empat penyebab:
1. Berakhirnya masa hidup mereka
2. Berakhirnya perbuatan baik mereka sebelumnya
3. Karena mereka lupa untuk makan makanan.
4. Timbulnya kesadaran berakar dengan kebencian.

Meskipun penyebab pertama dan kedua mudah dipahami, dua yang terakhir tidak. Biarlah saya coba menjelaskannya. Karena kesenangan nafsu indera dewa begitu agung, dewa seringkali lupa makan. Ketika mereka lupa, tubuh mereka menjadi
terkuras dan kelelahan. Tanpa makan, bahkan dewa pun akan mati. Ini adalah jenis kematian ketiga – kematian yang timbul hanya karena lupa makan.

Jenis kematian keempat disebabkan oleh timbulnya kesadaran berakar dalam kebencian. Kadang-kadang ketidakpuasan muncul ketika seseorang melihat kesuksesan orang lain.
Ketidakpuasan ini dapat memiliki karakteristik kecemburuan, kebencian, rendah diri dan iri hati - tidak senang dengan kesejahteraan orang lain. Intinya adalah tidak suka terhadap nasib baik atau kebahagiaan orang lain.
Kecemburuan dan iri hati dapat timbul hanya dengan kesadaran yang berakar dalam kebencian.
Kebencian, kecemburuan dan iri hati membuat pikiran panas, lelah dan letih. Jika tidak diamati, perilaku seperti ini dapat membawa kematian pada seseorang.

Karena kecemburuan, ketidakpuasan dan ketidaksenangan terhadap kemakmuran dan keberhasílan dewa lain, beberapa dewa mati.
Kita sekarang tahu empat penyebab yang mengakibatkan
kematian dewa. Tapi apa yang terjadi pada dewa ketika ia akan mati?

Mari kita lihat lagi ajaran Sang Buddha. Ini dari bab III Itivuttaka. Di dalamnya Buddha mengatakan:

“Bhikkhu, ketika sesosok dewa akan mati dari kumpulan para dewa, lima tanda yang menunjukkan hal itu muncul adalah:
1. Kalung bunganya layu,
2. Pakaiannya menjadi kotor,
3. Ketiaknya mengeluarkan keringat,
4. Cahaya tubuhnya memudar, dan
5. Dewa tidak lagi bergembira dalam tahta surga nya.”

Bunga yang indah, karangan bunga yang dipakai oleh dewa pada saat kelahirannya sangat harum.

Bunga-bunga surgawi tetap segar dan terus mekar sepanjang hidup sang dewa. Hanya saat menjelang kematiannya karangan bunganya akan layu.

Demikian juga, pakaian seorang dewa selalu indah dan bersih. Sama sekali tidak pernah perlu dicuci. Namun, ketika dewa akan meninggal, pakaiannya menjadi kotor. Kita manusia juga menderita dari panas dan dingin, tetapi dewa tidak. Kita manusia perlu bekerja tetapi dewa tidak perlu bekerja. Manusia
berkeringat, dewa tidak pernah berkeringat. Dewa hanya berkeringat bila akan segera meninggal.

Perbuatan baik yang dilakukan sebelumnya oleh sesosok dewa menciptakan penyebab yang menentukan kondisi saat mereka hidup di alam dewa ini. Semakin besar jumlah perbuatan baik yang mereka lakukan di masa lalu, semakin lama hidup mereka, keindahan mereka lebih megah, semakin besar kebahagiaan mereka, ketenaran dan kekuasaan mereka lebih luas dan unggul. Hal ini semata-mata karena karma baik masa lalu sehingga makhluk-makhluk terlahir di alam dewa.

Ketika sesosok dewa ingin makan, makanan lezat muncul begitu saja. Seperti manusia, dewa mengonsumsi makanan, tetapi tidak seperti manusia proses pencernaan mereka tidak menghasilkan kotoran. Tidak ada toilet di alam dewa. Betapa indah dan bersihnya alam mereka!

Tubuh mereka juga bersinar cerah, memancarkan sinar terang dan cahaya cemerlang. Namun, ketika mereka akan meninggal, cahaya tubuh mereka juga mulai kabur dan memudar.

Meskipun alam dewa adalah alam yang membahagiakan, namun ketika sesosok dewa akan meninggal, tidak ada kebahagiaan lagi yang bisa ditemukan di sana. Apakah tanda-tanda ini selalu muncul pada semua dewa ketika mereka akan
meninggal?

Hal ini dijelaskan dalam Kitab Komentar Majjhimà
Nikàya:
“Di antara para dewa, beberapa banyak berbuat baik; ada juga yang tidak. Ketika yang pertama akan meninggal, lima tanda-tanda itu muncul. Tapi untuk yang terakhir, tanda-tanda ini tidak tampak. Ini adalah perbedaan di antara mereka.

“Ketika sesosok dewa dengan kebajikan lebih rendah meninggal, tubuhnya padam seperti nyala lampu, dan ia akan terlahir kembali di salah satu alam nafsu indera.”

Kembali ke sutta: Tepat ketika dewa melihat tanda-tanda kematian telah mendekat, mereka saling memberi dorongan satu sama lain dalam tiga ungkapan dengan kata-kata:

“Pergi dari sini teman, ke tujuan yang baik. Setelah pergi ke tujuan yang baik, dapatkan keuntungan yang patut diperoleh.
Setelah mendapatkan keuntungan yang patut diperoleh, jadilah mapan di dalamnya.”

Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagava: “Bhante, apa artinya para dewa berkata ‘menuju ke tujuan yang baik? Apa artinya dapatkan apa yang patut untuk diperoleh? Apa artinya menjadi mapan?

“Alam manusia, bhikkhu, adalah apa yang para dewa maksudkan dengan pergi ke tujuan yang baik.”

Mengapa alam manusia tujuan yang baik?
Sebab, di alam manusia, ada banyak kesempatan untuk melakukan perbuatan baik seperti melakukan dana, mengembangkan síla dan berlatih samatha dan meditasi Vipassanà. Untuk alasan ini dikatakan bahwa alam manusia adalah tujuan yang baik. Sangat mudah untuk melakukan dana di sini. Mengapa? Harus ada tiga kondisi yang sesuai:
Hal-hal yang ditawarkan, niat untuk menawarkan hal-hal tersebut dan seseorang untuk menerima persembahan.

Dalam dunia manusia, tiga kondisi ini mudah didapatkan. Dengan penghasílan dan keuntungan, manusia memiliki sarana untuk menawarkan hal-hal tersebut. Mereka dapat menawarkan banyak atau sedikit, baik atau buruk, tergantung pada keadaan masing-masing. Niat untuk menawarkan hal-hal tersebut juga dapat dengan mudah dikembangkan dan disempurnakan. Dan, akhirnya, kita hanya perlu melihat sekeliling untuk melihat bahwa dunia ini penuh dengan mereka yang membutuhkan dan layak untuk menerima yang ditawarkan. Jadi, kita melihat bahwa alam manusia adalah tujuan yang baik.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com