Ringkasan Sesi Tanya-Jawab Vinaya
Bhikkhu Ñānadassana Mahāthera
👁 1 View2017-09-22 09:26:15
Ini adalah ringkasan dari sesi tanya-jawab vinaya bersama Bhante Ñāṇadassana yang diadakan di Cetiya Saddhā Maṅgala, Lippo Cikarang. Semoga dapat bermanfaat baik bagi para bhikkhu maupun umat. Semoga dengan pemahaman yang benar, kegiatan sokong-menyokong antara bhikkhu dan umat dapat berjalan dengan baik dan benar, sehingga memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Mereka yang ingin mengetahui lebih detail dapat langsung mendengarkan perbincangan vinaya ini melalui file audio yang dapat diunduh di bagian dhamma talk.
Sedikit informasi mengenai beliau:
Seorang bhikkhu yang berasal dari Yunani dan telah menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu selama 30 vassa. Beliau belajar dan tinggal di Sri Lanka, dan merupakan seorang ahli vinaya.
Metta untuk semua,
Bhikkhu Sikkhānanda
Benteng Satipaṭṭhāna Tangerang, Banten, Indonesia
31 Desember, 2016
1. Saat ini perayaan kathina sudah menjadi kebiasaan dan umat terus melakukannya, bahkan sampai ada undangan; tetapi, setelah kita mendengar penjelasan bhante ini, kita tahu bahwa sebenarnya kathina itu tidak perlu. Bagaimana caranya untuk menjelaskan ke umat bahwa dalam perayaan kathina yang biasa dilakukan sebenarnya banyak terdapat pelanggaran?
Disarankan agar untuk memberikan hanya yang dibutuhkan dan secukupnya. Mereka juga bisa diberitahu untuk melakukan kebajikan yang lebih tinggi misalnya menjaga sila dan melakukan meditasi. Vassa sebenarnya adalah retret musim hujan selama tiga bulan yang seharusnya diisi dengan melaksanakan meditasi. Di akhir masa vassa, umat bisa datang ke vihara dan berlatih meditasi misalnya selama 1, 2, atau 3 hari. Ini adalah kesempatan untuk umat untuk merasakan retret, berlatih meditasi.
2. Apa yang bhante sarankan untuk kami, melakukan perayaan kathina atau tidak?
Beliau (bhante Ñāṇadassana) katakan bahwa untuk melakukan perayaan kathina setidaknya harus ada bhikkhu yang ber-vassa di tempat yang ingin melaksanakannya. Sepengetahuan beliau di vihara Saddhā Maṅgala biasanya tidak ada bhikkhu yang bervassa. Jadi, tidak bisa melakukan perayaan kathina. Mereka bisa mengundang bhikkhu untuk melakukan sangha dana, tetapi bukan perayaan kathina. [Tolong camkan bahwa ini bukan berarti beliau menyetujui pemberian dana berupa uang kepada sangha, lihat jawaban-jawaban beliau di pertanyaan-pertanyaan berikutnya, khususnya jawaban dari pertanyaan nomor 6 dan nomor 14].
3. Apakah kathina dapat dilakukan di tempat di mana tidak ada bhikkhu yang ber-vassa, misalnya di vihara, gedung pertemuan, atau mall?
Tidak bisa.
4. Bagaimanakah proses penyerahan jubah kathina yang sesuai dengan vinaya kepada bhikkhu yang akan membuka kathina?
Umat bisa datang di pagi hari saat matahari terbit ke vihara dan memberikan jubah kathina kepada para bhikkhu yang bervassa di sana dan mengatakan bahwa persembahan ini sebagai jubah kathina. Kemudian para bhikkhu bisa memberikan ucapan terima kasih kepadanya misalnya dengan memberikan ceramah Dhamma atau yang lainnya, terserah mereka. Kemudian para bhikkhu harus melakukan vinaya-kamma di mana sangha memberikan jubah kathina kepada seorang bhikkhu yang akan membuka kathina untuk mendistribusikan hak istimewa kathina. [Prosedur ini harus dilakukan di sima, untuk mengetahui detailnya, silakan baca “Kathina dan Serba-Serbinya”].
5. Apakah pantas jubah yang telah diserahkan kepada bhikkhu (atau sangha) kemudian dijual kembali kepada umat oleh bhikkhu yang menerimanya?
Tidak pantas. Bhikkhu tidak bisa menjual jubah kepada umat. Seorang bhikkhu tidak boleh melakukan jual-beli ataupun barter. Beliau tidak terkejut mendengar hal ini, karena para bhikkhu yang menggunakan uang, sekarang mencari segala cara untuk mendapatkan lebih banyak uang. Berdasarkan vinaya ini adalah hal yang tidak pantas dan bhikkhu yang melakukannya melakukan pelanggaran vinaya dan ini merupakan karma buruk.
6. Apakah pantas seorang bhikkhu mengumpulkan dana (uang) sekalipun hal itu ditujukan untuk pendirian vihara?
Tidak pantas. Para bhikkhu tidak boleh mengumpulkan uang. Para bhikkhu juga tidak boleh mengatakan kepada umat bahwa mereka membutuhkan uang untuk membeli ini atau itu, untuk membuat vihara baru, dan sebagainya. Hal ini terjadi 100 tahun setelah Sang Buddha parinibbāna dan menjadi penyebab terjadinya konsili sangha II. Selanjutnya beliau menjelaskan kisah yang memicu terjadinya konsili tersebut. [Sejarahnya dapat dibaca di artikel “Sejarah Konsili Sangha II”]. Beliau atau kelompok beliau menyebut para bhikkhu yang menerima uang sebagai Putra Vajjī (Vajjī-putta), bukan Putra Sakya (Sakya-putta).
7. Bagaimanakah prosedur yang tepat bila seorang bhikkhu ingin memiliki atau mendirikan vihara?
Bhikkhu tidak boleh memiliki tanah atau membeli tanah. Biasanya tanah untuk vihara disumbangkan oleh umat. Prosedur pendirian vihara harus melalui kappiya kāraka (umat awam yang membantu atau membuat sesuatu menjadi legal untuk diterima para bhikkhu). Seorang bhikkhu tidak bisa mendirikan vihara sendiri. Bhikkhu bisa memberi saran atau nasihat sehubungan dengan pembangunan vihara tersebut, misalnya kami membutuhkan kuti dan sebagainya, tetapi tidak bisa terlibat dengan masalah pembiayaannya, misalnya ayo kita adakan perayaan kathina untuk mendapatkan lebih banyak dana. Di Sri Lanka biasanya vihara mempunyai komite yang terdiri dari beberapa umat awam, misalnya yang menjabat sebagai presiden, bendahara, sekertaris dan yang lainnya, mereka yang mengatur jalannya operasional vihara.
8. Apakah pantas seorang bhikkhu menyibukkan dirinya untuk kegiatan duniawi seperti mendirikan sekolah, yayasan, dan membantu anak-anak yang kurang mampu dengan menjadi orang tua asuh?
Pada saat ini bhikkhu sibuk dengan berbagai macam kegiatan (beliau mengatakannya sambil tersenyum). Bhikkhu bisa memberikan nasihat, tetapi tidak bisa mengumpulkan uangnya sendiri. Terlibat dengan hal yang berhubungan dengan uang adalah hal yang tidak pantas bagi seorang bhikkhu. Sehubungan dengan membantu anak-anak yang kurang mampu, bhikkhu bisa membantunya hanya jika tidak ada cara lain lagi untuk mempertahankan hidupnya. Namun demikian, untuk hal-hal yang berhubungan dengan uang, harus dilakukan oleh umat awam, tidak bisa dilakukan oleh bhikkhu.
Beliau menjelaskan bahwa Sang Buddha tidak memberikan celah sekecil apapun bagi bhikkhu untuk dapat mencari atau menyetujui penerimaan uang [bisa baca di Maṇicūḷaka Sutta (SN 42.10)]. Beliau juga menghubungkannya dengan Upakkilesa Sutta (AN 4.50) di mana uang disejajarkan dengan hubungan seksual (pelanggaran pārājika pertama); dan Dhammacakkappavattana Sutta (SN 56.11). Bhikkhu yang melakukan pelanggaran pārājika pertama, dia gugur dan dikatakan sebagai bukan seorang samana/bhikkhu (assamaṇo) dan bukan seorang putra sakya (asakyaputtiyo). Karena penggunaan uang sejajar dengan hubungan seksual, maka Beliau katakan bahwa bhikkhu yang menggunakan uang disebut sebagai bukan seorang samana/bhikkhu (assamaṇo) dan bukan seorang putra sakya (asakyaputtiyo).
9. Apakah tujuan utama dari melakukan piṇḍapāta bagi seorang bhikkhu?
Tujuan utamanya adalah mengeliminasi keserakahan. Seorang bhikkhu harus mengetahui batas dalam menerima. Bila ada yang memberikan dana yang berlebihan, dia harus menerima hanya sebatas yang dia perlukan dan menolak selebihnya. Piṇḍapāta bukan untuk pertunjukan (show), tetapi untuk tujuan melakukan pelepasan.
10. Apakah pantas bila bhikkhu atau sangha mengadakan piṇḍapāta dengan tujuan mengumpulkan dana?
Tidak pantas. Jika bhikkhu piṇḍapāta untuk mengumpulkan uang, maka tidak bisa disebut sebagai piṇḍapāta tetapi ‘money-pāta.’ Piṇḍapāta dalam bahasa Inggris disebut sebagai alms-round, lalu dia berkata, ‘it is not alms-round’ tetapi ‘money-round’ dan umat tertawa mendengarnya.
11. Apakah tepat bila umat memasukkan barang-barang seperti sikat gigi, pasta gigi, sabun, dupa, sandal, dan uang ke mangkuk seorang bhikkhu yang ber-piṇḍapāta?
Mangkuk adalah untuk menerima dana makanan, tetapi saat ini ada bhikkhu yang menggunakan mangkuk seperti koper, mereka gunakan untuk menaruh berbagai macam barang di dalamnya. Bukan umat yang harus menjalankan aturan vinaya, tetapi bhikkhu. Jadi, bhikkhu-lah yang harus mengetahui cara penggunaan mangkuk secara benar.
12. Apakah pantas bagi seorang bhikkhu walaupun pergi piṇḍapāta tetapi tidak memakan makanan yang didapatnya dan bahkan menyia-nyiakannya, melainkan memakan makanan lain dengan piring di meja?
Tidak pantas. Bhikkhu yang mengumpulkan makanan seperti demikian hanyalah untuk pertunjukan (show), jadi tidak pantas.
13. Bagaimana sebaiknya umat bersikap kepada bhikkhu yang mempraktikkan hal-hal yang tidak sesuai dengan vinaya?
Tidak berasosiasi dengan bhikkhu yang demikian. Beliau tidak katakan untuk tidak menyokong secara materi, misalnya tidak memberikan dana makan, misalnya makan pagi dan makan siang. Tetapi dari sisi spiritual, beliau katakan untuk tidak menerima pandangan (ajaran) dari bhikkhu yang demikian. Selidiki apakah pandangan atau ajarannya sesuai dengan apa yang Sang Buddha ajarkan. Bila tidak sesuai, jangan terima pandangannya atau ajarannya. Bhikkhu yang demikian disebut sebagai A-Dhamma Vādi dan A-Vinaya Vādi (seorang yang tidak berbicara sesuai dengan Dhamma dan Vinaya).
14. Bila seorang bhikkhu pergi piṇḍapāta dan ada yang memberikan uang, uang tersebut diterimanya/diambilnya tetapi bukan untuk dia, melainkan dia berikan/serahkan untuk vihara, misalnya dimasukkan ke kotak dana, dia terima secara fisik tetapi tidak secara mental. Apakah hal ini diperbolehkan?
Hal yang harus dilakukannya adalah dia harus menolaknya. Jika dia berniat untuk memberikannya kepada orang lain, maka dia merusak keyakinan si pemberinya (saddhādeyya vinipāta); karena donor memberikannya untuk dia bukan untuk orang lain. Bila dia melakukannya dia melakukan pelanggaran vinaya. Jika tujuannya untuk dimasukkan ke kotak dana vihara dan dia mengetahui uang tersebut akan digunakan untuk membeli keramik untuk lantai vihara, maka setiap dia menginjak keramik tersebut dia akan melakukan pelanggaran setiap langkahnya. Tidak ada cara lain untuk menghindari pelanggaran sehubungan dengan uang kecuali bhikkhu tersebut menolaknya.
Beliau juga mencontohkan kasus yang lebih halus lagi sehubungan dengan peraturan mengenai uang. Bila seorang bhikkhu menerima persembahan kain yang di dalamnya terdapat uang, walaupun dia tidak tahu bila ada uang di dalamnya dan tidak ingin menerima uangnya, tetapi hanya ingin menerima kainnya, saat dia menerima kain tersebut dia tetap melakukan pelanggaran. Jadi, seorang bhikkhu harus hati-hati sekali sehubungan dengan peraturan mengenai uang.
Terima kasih kepada para bhikkhu yang telah menjaga Dhamma-Vinaya dengan baik, sehingga saat ini, setelah lebih dari 2500 tahun sejak Sang Guru Agung paribnibbāna, Ajaran yang sungguh Mulia ini masih bertahan.
================================================================
Dimuat oleh Krishna.
Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com