Sariputta | Perumpamaan Perbedaan Buah Kamma Sariputta

Perumpamaan Perbedaan Buah Kamma

Bhikkhu Kheminda

👁 1 View
2018-07-16 15:22:58

1. Kekayaan
Ada seseorang yang mencuri dihukum, tetapi ada juga orang lain yang mencuri tetapi tidak dihukum. Perbedaan tersebut terjadi karena orang pertama, ketika ditangkap oleh raja, tidak bisa membayar ganti rugi yang ditentukan. Sementara orang kedua adalah orang kaya. Ketika ditangkap, dia bisa membayar ganti rugi yang ditentukan raja dan dengan demikian dia dilepaskan - tidak dihukum.

2. Jagal dan pencuri.
Seorang jagal atau pembunuh domba bisa berbuat sesuka hati terhadap seorang miskin tanpa mendapatkan balasan. Akan tetapi ketika melakukannya kepada orang kaya atau orang yang berpengaruh maka dia segera mendapatkan balasannya yang setimpal.

3. Dua roda.
Perumpamaan ini berasal dari Rathakara Sutta. Pada suatu hari, raja meminta seorang pembuat kereta untuk membuat sepasang roda dalam waktu enam bulan karena beliau akan pergi ke medan perang. Akan tetapi, ketika enam bulan tinggal enam hari lagi, pembuat kereta hanya berhasil menyelesaikan satu roda saja. Ketika raja menanyakannya, si pembuat kereta berjanji akan menyelesaikan satu roda lagi dalam waktu enam hari.

Ketika roda kedua telah selesai dikerjakan, pembuat kereta menyerahkannya kepada raja. Raja memerika dan kemudian berkata bahwa dia tidak melihat perbedaan apa pun antara roda yang pertama dan yang kedua. Pembuat kereta menjelaskan bahwa roda pertama akan terus berputar selama momentum ada, kemudian diam dengan kukuh. Sedangkan roda yang kedua ketika tidak ada momentum lagi akan jatuh dan rusak karena pelek, jeruji dan as rodanya penuh dengan kekurangan dan bengkok; hal ini berbeda dengan roda pertama yang semuanya sempurna.

Demikianlah, siapa pun yang tubuh, ucapan dan pikirannya 'rusak dan bengkok' maka hidupnya akan mengalami kejatuhan seperti halnya roda yang dibuat hanya dalam waktu enam hari. Sedangkan, mereka yang telah meninggalkan tubuh, ucapan dan pikiran yang 'rusak dan bengkok' maka kehidupan akan berdiri kukuh seperti roda yang dibuat dalam waktu enam bulan kurang enam hari.

Perumpamaan-perumpamaan di atas mengingatkan kita bahwa masing-masing orang mempunyai timbunan kamma yang berbeda-beda. Dengan demikian kita tidak perlu mencontoh kejahatan yang dilakukan oleh orang lain dengan berpikir akan lolos dari kesulitan hidup seperti yang orang tersebut alami. Kita juga tidak perlu iri hati, "Kenapa dia berusaha sedikit saja langsung jadi kaya, sednagkan saya kok tidak kaya?" Kalau hal ini terjadi kepada Anda maka ingatlah bahwa Anda adalah roda bengkok sedangkan dia adalah roda yang sempurna. Satu hal yang hendaknya diingat bahwa kamma buruk mempunyai waktunya sendiri untuk berbuah. Seseorang yang berbuat tidak baik tetapi kehidupannya terlihat baik-baik saja maka hal ini terjadi karena kamma buruk yang dilakukannya belum berbuah. Aapabila kamma buruk tersebut berbuah maka penderitaan pasti akan menghampirinya.

Pada suatu masa, di suatu desa, hiduplah seorang tua yang sangat bijaksana. Dia dikenal sangat bijaksana, sampai seluruh kota mengenal dia sebagai seorang yang sangat bijaksana, berpengetahuan luas dan bisa menyelesaikan semua masalah. Akan tetapi pada suatu hari ada seorang pemuda yang iri hati, dia ingin menjatuhkan reputasi orang tua tersebut supaya bisa menggantikan posisi orang tua itu.

Pada suatu hari anak muda tersebut, sambil membawa burung di dalam genggamannya, menemui orang tua yang bijaksana. Dia sengaja membawa banyak teman karena dia ingin menjatuhkan reputasi orang bijaksana tadi di depan orang banyak. Setelah bertemu, dia berkata dalam hati, "Sore hari ini saya akan hancurkan reputasi kamu, saya ingin semua orang disini tahu bahwa sebenarnya kamu bukan orang bijaksana." Kemudian dia bertanya pada orang yang bijaksana tadi, "Bapak tua saya membawa seekor burung di dalam genggaman tangan, menurut bapak burung yang ada di genggaman saya ini hidup atau sudah mati?" Burung tersebut sebenarnya masih hidup tetapi dalam hati pemuda tadi berkata kalau orang tua tersebut menjawab bahwa burung yang ada digenggaman tangan saya ini sudah mati maka saya akan melepaskan burung oitu dan dengan demikian semua orang tahu bahwa jawaban dia salah. Sebaliknya, apabila dia menjawab bahwa burung tersebut masih hidup maka dia akan meremas burung tadi sampai mati dan dia akan tunjukkan pada semua orang bahwa bapak yang bijaksana ini ternyata bisa salah menjawab.

Setelah ditanya oleh anak muda tersebut, akhirnya bapak yang bijaksana tadi merenung, lama sekali dia menjawab. Di dalam hati si pemuda sudah senang, bergembira karena sebentar lagi reputasi orang yang paling bijaksana ini akan hancur. Saya akan menggantikan posisi dia! Tiba-tiba bapak tua tadi menjawab, "Anak muda, saya tidak tahu apakah burung yang ada di dalam genggaman kamu itu masih hidup atau sudah mati; tetapi satu hal yang saya tahu bahwa nasib burung tersebut ada di dalam genggaman tangan kamu! Cerita ini sangat bagus untuk mengingatkan kita bahwa nasib dan kualitas kehidupan kita ada di genggaman tangan kita sendiri. Kita mau meremas dan menghancurkan kehidupan atau melepaskannya, semuanya tergantung pada kita sendiri. Kita adalah arsitek yang merancang bangunan kehidupan kita sendiri. Anda harus percaya pada diri Anda sendiri, bahwa Anda bisa mengubah nasib Anda.

Ada satu cerita lagi yang juga sangat inspiratif. Cerita ini tentang seekor burung rajawali yang mati sebagai ayam. Pada suatu hari ada sebutir telur burung rajawali yang ditemukan oleh induk ayam. Kemudian induk ayam tersebut mengeraminya selama beberapa hari sampai menetas. Pada saat telur burung rajawali ini menetas, maka keluarlah seekor anak burung rajawali. Akan tetapi karena sejak menetas dia diasuh oleh induk ayam, dan seumur hidupnya dia menghabiskan kehidupannya berkawan dengan ayam-ayam yang lain, hingga dia dewasa yang dia lihat hanyalah ayam. Tanpa disadari dia menganggap dirinya seekor ayam.

Pada suatu hari, ketika mendongak ke langit, dia melihat burung rajawali yang terbang jauh tinggi diangkasa. Dia berkata kepada ibunya, sang ayam, "Mama sungguh enak ya jadi burung seperti itu, bisa terbang, tidak seperti kita yang tidak pernah bisa terbang." Dia tidak sadar bahwa sebenarnya dia juga seekor burung rajawali! Seumur hidup dia hidup sebagai ayam dan mati pun juga sebagai seekor ayam.

Bukankah banyak manusia yang seperti burung rajawali di dalam cerita diatas? Banyak manusia yang menyerah pada nasib dan seumur hidup tidak pernah menyadari kemampuannya untuk 'terbang tinggi' melampaui samsara ini. Mereka berpikir bahwa memiliki hati yang penuh kilesa adalah hal wajar. Padahal kalau dia mau membuka dirinya, mau membuka pikiran dan batinnya dan mau berusaha maka sebenarnya dia mempunyai kesempatan serta kemampuan untuk 'terbang' atau menghancurkan semua kilesa. Pikirannya mengikat dan mengerdilkan dirinya sendiri. Kalau Anda berpikiran sempit maka kehidupan akan menjadi sempit bagi Anda. Kalau Anda berpikiran sangat luas, amak kehidupan akan menjadi sangat luas bagi Anda. Sekali lagi, nasib ada di tangan kita, kebahagiaan dan penderitaan ada di tangan kita.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com