Sariputta | BAB 3 Petunjuk Perjalanan Roh Menurut Keyakinan Agama Buddha Mahayana Tanah Suci Sariputta

BAB 3 Petunjuk Perjalanan Roh Menurut Keyakinan Agama Buddha Mahayana Tanah Suci

Bhiksu Dutavira Sthavira

👁 1 View
2018-11-04 12:20:38

Hyang Buddha bersabda, “Perjalanan hidup manusia menderita maupun gembira adalah hasil perbuatannya sendiri, yang baik maupun yang buruk, dan manusia mempunyai kemampuan untuk menentukan masa depannya”. Yang dimaksud dengan masa depan adalah saat menghadapi proses kematian (fase I/ pra pelepasan dan fase II/ saat pelepasan roh) maupun proses tumimbal lahir (fase III/ pasca pelepasan) yang telah diuraikan dimuka.

Orang yang di usia tuanya ingin tidak menderita saat menjalankan proses kematian, yaitu saat proses penghancuran jasmani dan roh badan medio ke luar dari tubuh, maka dia harus mau membina diri. Dengan membina diri, dia akan memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menolong dirinya sendiri untuk tidak menderita, maupun membantu orang lain yang berjodoh dengannya, agar berkurang penderitaannya maupun tumimbal lahir menuju Tanah Suci Surga Sukhavati atau minimal dilahirkan di alam yang lebih baik.

Di dalam kitab suci Amitabha Sutra, Hyang Buddha bersabda:

Sariputra, apa sebabnya alam tersebut dinamakan Surga Sukhavati?. Karena para makhluk di alam tersebut tiada penderitaan, yang ada hanya merasakan berbagai kegembiraan dan kebahagiaan, oleh karena itulah alam tersebut dinamakan Tanah Suci Surga Sukhavati. (ayat 5)

Semua makhluk yang mendengar berita ini seyogyanya membangkitkan tekad yang bulat untuk dilahirkan di negeri tersebut (Tanah Suci Surga Sukhavati). Mengapa dikatakan demikian? Karena mereka yang terlahir di alam tersebut, dapat berkumpul dengan para mahkluk suci dan mulia. Orang yang dapat terlahir di negeri Buddha tersebut tidak boleh kekurangan sifat kebajikan yang mengakar, selalu menanam sebab dan jodoh keberuntungan serta moral yang indah (ayat 22).

Bila ada pria budiman (yang berjiwa besar) atau wanita berbudi luhur, setelah mendengar ucapan nama Oh Mee Toh Fo (Amitabha Buddha), menyatukan jiwa dalam nama-Nya secara terus menerus, selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, jiwanya menyatu dan tidak galau, maka saat menjelang ajalnya Oh Mee Toh Fo (Amitabha Buddha) dan para orang suci akan muncul di hadapannya. Disaat meninggal dunia, jiwanya tidak kacau (pikiran tidak terbalik), sehingga segera dapat terlahir di Tanah Suci Amitabha Buddha/ Tanah Suci Surga Sukhavati (ayat 23).

Khusus bagi umat Buddha, jalan menghindari segala derita, baik menjelang maupun saat meninggal dunia, hingga lebih lanjut menuju alam tumimbal lahir, dapat dicapai dengan 2 cara yaitu:

1. DENGAN KEKUATAN DIRI SENDIRI (ZHE LI)

Untuk dapat melewati derita fase I dan II, maka orang harus membina diri dengan melaksanakan: xiu san fu, xing liu du , wu nian men, qing tu ren.

- Mengumpulkan tiga keberuntungan/xiu san fu.

Yang dimaksud dengan xiu san fu yaitu:

- Berbakti dan menghormat kepada ayah, ibu dan guru/ xiao jing fu mu shi zhang.

- Menerima diksa trisarana dan Pancasila/Shou san gui wu jie.

- Bangkitkan maha bodhicitta dan yakin secara mendalam kepada Hukum Karma/ fa da pu ti xin, shen xingyingguo bao ying.

- Melaksanakan sad paramita/ xing liu du.

yaitu melaksanakan sadparamita di dalam kehidupan sehari-hari, yang terdiri dari: dana paramita, sila paramita, ksanti paramita, virya paramita, samadhi paramita, prajna paramita,

- Membina diri di dalam Lima Pintu Penghayatan Dharma

Memasuki Tanah Suci Surga Sukhavati/ wu nian men, yaitu:

1. Pintu Menghormat dan Sembahyang

2. Pintu Memuliakan nama Buddha

3. Pintu Bertekad dilahirkan di Surga Sukhavati

4. Pintu selalu introspeksi perbuatan sendiri apakah sudah hidup dalam jalan ke-Buddhaan, bila tidak ia harus mau mengoreksi/ memperbaikinya. Bangkitkan lagi tekad ingin dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati.

5. Pintu Penyaluran jasa, yaitu membangkitkan rasa menyesal dan bertobat serta mau membagi kebahagiaan/ berkahnya kepada yang lain.

- Menjadi manusia Tanah Suci, bahagia dunia dan akhirat/ QING TU REN .

Dengan melaksanakan hal tersebut di atas, maka anda adalah penghuni Tanah Suci Surga Sukhavati yang akan memperoleh keberuntungan semasa hidup dan meninggal dunia dilahirkan sebagai penduduk Tanah Suci Surga Sukhavati.

Bila hal tersebut di atas dijalankan dengan baik, maka fase I dan II dapat dilalui dengan mudah, tanpa mengalami penderitaaan. Hyang Buddha beserta makhluk suci lainnya dengan tangan memegang panggung emas datang menjemput, seketika itu juga terlahirlah di Tanah Suci Surga Sukhavati.

Akan tetapi bagi orang yang menjalankan hal tersebut di atas yang belum sempurna, saat menjelang meninggal dunia mungkin akan mengalami proses penderitaan dan sakit, namun tetap dapat dilahirkan di Tanah Suci Surga Sukhavati.

2. Membantu orang yang berjodoh (zhu li/ zhu nian)

Di dalam ayat kitab suci Yi Xin Gui Ming/ Renungan dan Prasetya Maha Bodhisattva Yang Penuh Welas Asih dikatakan, bahwa orang yang mempunyai kekuatan Buddha {Buddha Bala), sebagai hasil dari latihan tersebut di atas, dia dapat memberikan motivasi atau membantu orang lain yang membutuhkan maupun almarhum/ ah, hingga tergugah batinnya (badan medio/rohnya) untuk ikut Nian Fo Namo Oh Mee Toh Fo. Dengan demikian almarhum/ah dapat tumimbal lahir di Tanah Suci Surga Sukhavati atau di alam yang lebih baik.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com