Sariputta | Ajahn Tongrat Sariputta

Ajahn Tongrat

Ajahn Chah

👁 1 View
2018-04-07 15:35:40

Sewaktu membabarkan Dhamma kepada teman-teman atau pun orang yang lain, ada dua yang perlu Anda pertimbangkan, yaitu apa yang dalam bahasa sehari-hari disebut contoh dan esensi. Dhamma diajarkan bukan demi contoh, namun demi esensinya. Ajahn Tongrat, guru dari generasi lalu, adalah contohnya. Orang-orang yang tidak cerdas tidak dapat memahami Dhamma beliau, karena mereka cuma melihat contoh perbuatannya. Tutur katanya tak terkendali - inilah contoh perbuatannya. Beliau terus-terusan menuntut perumah tangga, dan ketika memarahi seseorang di tengah pertemuan, beliau benar-benar akan menyemprot mereka. Contoh perbuatan beliau seperti ini, namun dalam esensinya, tidak ada apa pun - benar-benar tidak apa -apa. Itu hanya cuma tutur kata, dan semua perkataannya adalah terkandung Dhamma. Sebenarnya, apa pun yang beliau katakan mengarah kepada Dhamma, tetapi banyak orang yang tidak mengerti apa yang telah beliau lakukan. Niat beliau adalah membabarkan Dhamma, bukan untuk menyakiti, dan tidak ada perbuatan buruk yang dilakukan, tiada kerugian yang disbebkan siapa pun. Namun dalam tindak-tanduknya, dalam perkataan dan perbuatannya, beliau tidak terlihat terkendali. Contoh perbuatan beliau seperti ini. Sebagian bhikkhu mencoba mengikutinya, dan hasilnya hanyalah kejatuhan diri mereka sendiri.

Ketika Ajahn Tongrat dan bhikkhunya pergi berpindapata makanan, ada sebuah rumah yang penghuninya termasuk kikir. Mereka tidak suka berderma makanan, tetapi tentunya hampir tiap orang di desa itu setidaknya mempersembahkan sejumput nasi. Maka, keluarga kikir itu sengaja mencari-cari alasan, misalnya mereka berkata tidak tahu kalau para bhikkhu sedang datang. Jadi pada saat Ajahn Tongrat sampai dirumah orang kikir itu, beliau akan berteriak dengan suara menggelegar, "Hei ! Nasinya sudah matang belum?" Lalu, beliau menunggu di depan rumah itu. Penghuninya mau tidak mau terpaksa muncul dan manaruh nasi ke dalam mangkuk makan para bhikkhu.

Para bhikkhu lainnya menyaksikan Ajahn Tongrat melakukan hal ini setiap harinya. Belakangan, seorang bhikkhu sepuh mulai mengikuti contoh perbuatannya. Tiap kali jika ia berpindapata, ia akan berteriak di depan setiap rumah, "Hei ! Nasinya sudah matang belum?"

Kejadian ini akhirnya terdengar oleh Ajahn Tongrat. Suatu hari, di tengah para bhikkhu yang lain, beliau memanggil bhikkhu ini dan mencacinya karena meminta derma makanan.

"Apa maksud Ajahn?" tanya bhikkhu tua tanpa merasa bersalah.

"Kata orang, sewaktu berpindapata, kamu berteriak-teriak, 'Hei ! nasinya sudah matang belum?' ini benar-benar tidak pantas bagi seorang bhikkhu!"

Tentu saja, bhikkhu tua itu beranggapan dirinya melakukan perbuatan yang benar dengan meneladani cara gurunya. Namun ia tidak mengetahui alasan Ajahn Tongrat berperilaku seperti ini, dan ia tidak punya batin yang sama, yaitu batin yang tidak melekat. Si Ajahn menyentil perumah tangga yang kikir itu karena berharap agar mereka yang berhati kikir itu menjadi berhati dermawan, bukan semata-mata untuk mengisi perutnya sendiri.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com