Tentang putus pacar karena beda agama

Tanya Jawab Bhikkhu Uttamo

👁 1 View
2017-09-22 10:53:08

Dari: Bambang Agus, Mojokerto

Namo Buddhaya,
Bhante, saya ingin bertanya tentang putus pacar. Saya punya pacar yang beda agama.
Kami saling menyayangi. Ketika akan menikah, keluarganya meminta saya pindah
agama. Saya keberatan. Akhirnya saya putuskan untuk pisah.
Apakah saya telah berbuat kamma buruk karena telah menyakiti pacar saya ? Saya
merasa bersalah dan bingung apakah keputusan saya salah.
Mohon bimbingan Bhante.

Jawaban:
Dalam pengertian Buddhis, perkawinan adalah menyatukan persamaan. Semakin banyak
persamaan yang dimiliki oleh pasangan itu, tentu akan semakin besar pula kesempatan
mereka mewujudkan kebahagiaan. Salah satu persamaan yang perlu dimiliki adalah
persamaan keyakinan atau agama.

Sesungguhnya, dalam pacaran, masalah yang timbul dari perbedaan agama belum
nampak di permukaan. Meskipun demikian, keluarga pacar sudah meminta adanya
perpindahan agama. Menghadapi permintaan ini, sikap tegas untuk tidak pindah agama
dan tetap menjadi umat Buddha adalah sikap yang benar serta sesuai Dhamma. Meskipun
demikian, tidak harus terjadi perpisahan dengan pacar. Boleh saja, status pacaran diubah
menjadi teman biasa atau bahkan bersaudara. Dalam pengertian yang berkembang di
masyarakat, status ini adalah bukan sebagai pasangan hidup, namun menjadi teman
hidup.

Kalaupun terjadi perpisahan, selama hal itu bukan didasari niat untuk mengecewakan dia,
maka tindakan tersebut bukanlah kamma buruk. Dalam Dhamma, kamma adalah niat.
Tanpa niat untuk menyakiti pacar, maka putus cinta bukanlah melakukan kamma buruk.
Apalagi kalau semua fihak menyadari bahwa hubungan tidak bisa dilanjutkan karena
adanya perbedaan agama. Kesedihan, kekecewaan dan penderitaan lainnya akibat putus
cinta adalah buah kamma buruk.

Semoga jawaban ini dapat memberikan ketenangan dan kemantapan serta kebijaksanaan
dalam menolak permintaan pindah agama.
Semoga selalu berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com