Sariputta | Tanya Jawab 19 Sariputta

Tanya Jawab 19

Tanya Jawab 01-50

👁 1 View
2017-09-20 08:26:20

Umat Bertanya :

Apakah orang yang belum tercerahkan boleh membuat terjemahan? Misalnya dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Inggris.

Master Chin Kung Menjawab :

Untuk pekerjaan terjemahan, orang yang belum mencapai pencerahan juga boleh melakukannya. Dua ribu tahun yang lalu, Buddha Dharma masuk ke wilayah Tiongkok, dariBahasa Sansekerta diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin, para penerjemahnya berjumlah amat banyak, bukan hanya satu orang. “Aula Penerjemah” adalah tempat di mana pekerjaan menerjemahkan dilakukan. Aula Penerjemah milik Kumarajiva ada lebih dari 400 orang penerjemah, sedangkan Aula Penerjemah milik Tripitaka Master Hsuan Tsang ada lebih dari 600 orang penerjemah. Begitu banyak orang di sana, apakah mereka semuanya telah mencapai pencerahan? Tidak mungkin, diantara semuanya mungkin hanya ada satu atau dua saja yang telah tercerahkan, orang yang telah mencapai pencerahan itu menjadi verifikasi bagi mereka.                               

Umpamanya, “Sutra Hati” adalah hasil terjemahan Master Hsuan Tsang, ini menggunakan namanya, sesungguhnya pekerjaan menerjemahkan bukan hanya dilakukan oleh dia seorang saja. Dengan menggunakan namanya, maka dia harus bertanggungjawab; yakni setelah selesai diterjemahkan, harus melalui pengesahannya, dia telah menyetujuinya, dengan menggunakan namanya untuk disebarluaskan. Setiap nama penerjemah yang tercantum pada hasil terjemahan sutra, berarti orang ini harus bertanggungjawab pada hasil terjemahan sutra tersebut. Maka itu, penerjemah yang belum tercerahkan juga boleh ambil bagian dalam pekerjaan ini. Andaikata harus mencapai pencerahan terlebih dulu baru boleh menerjemahkan, maka Buddha Dharma sejak awal telah musnah.Bukan hanya menerjemahkan, dalam bidang berceramah juga sedemikian. Pada jaman dulu orang yang belum mencapai pencerahan tidak mampu untuk berceramah, juga tidak berani naik ke podium. Jika sekarang ini kita menggunakan ukuran tersebut maka takkan ada lagi yang berceramah. Ketika saya masih belum menjadi Bhiksu, saya menjadi murid di kelas Dharma Upasaka Li Bing-nan, jumlah muridnya ada sekitar lebih dari 20 orang. Diantara 20 orang ini, yang pernah mengecap pendidikan di sekolah tinggi hanya satu orang saja, SMU hanya ada 2 atau 3 orang saja, SMP ada sekitar 7-8 orang, dan SD ada sekitar belasan orang. Setelah dibimbing Upasaka Li Bingnan, semuanya jadi mampu berceramah, bahkan berceramah di seluruh pelosok Taiwan.

 

Guru Li mengajarkan pada kami satu prinsip, sebelum mencapai pencerahan, tidak boleh berceramah menurut pengertian sendiri, jika dengan pengertian sendiri memberikan ceramah, maka bila terjadi kesalahan harus menanggung hukum karma. Pepatah dulu mengatakan “Salah menyampaikan satu aksara, jatuh ke tubuh serigala selama 500 tahun”, maka itu kita tidak boleh tidak mawas diri.

 

Guru Li mengajarkan kami untuk menceramahkan penjelasan saja, penjelasan yang ditulis oleh para praktisi terdahulu kebanyakkan berupa bahasa mandarin klasik, kita menggunakan bahasa modern untuk menerjemahkannya. Kita menulis catatan, keseluruhannya didasarkan pada penjelasan dari para terdahulu dan dituangkan dalam bahasa masa kini; andaikata ada yang salah, maka para terdahulu yang bertanggungjawab, sedangkan kita tidak menanggungnya. 

Dengan menggunakan cara ini, maka itu kita bukan belajar menceramahkan sutra, tetapi belajar menceramahkan penjelasannya. Jika bertemu dengan penjelasan yang amat dalam, kami tidak mampu memahaminya, Guru Li mengajarkan pada kami sebuah cara yang menakjubkan : jika tidak mengerti maka jangan diceramahkan. Tidak menceramahkan satu bagian tersebut adalah karena kurang jelas memahaminya, bukan salah menjelaskannya. Kami mematuhi prinsip ini, di atas podium kami melatih setiap harinya.

Asalkan maksud dan tujuan kita adalah tulus, tidak untuk kepentingan diri sendiri, bukan demi ketenaran dan keuntungan, takkan ada lobha, dosa, moha dan keangkuhan, dengan demikian barulah kemajuan akan diperoleh, setiap tahun akan bertambah maju; dengan kemajuan maka akan ada pencerahan kecil, lama kelamaan pencerahan kecil yang terakumulasi akan menjadi pencerahan besar. Maka itu sekarang ketika kami membuka gulungan sutra, tidak perlu membaca penjelasan para terdahulu, kami sudah sanggup memahaminya, juga dapat melihat banyak makna yang tersirat di dalamnya, ini adalah kemajuan yang terus berkembang, juga tiada henti memperoleh pemberkatan dari para Buddha dan Bodhisattva.

Guru Li memberi sebuah kalimat padaku yakni “dengan ketulusan sepenuhnya akan mengundang datangnya mujizat”, kalimat ini adalah kunci. Bila ingin belajar berceramah maka harus menguasai Dharma duniawi (pengetahuan umum) dan Dharma non duniawi (Buddha Dharma). Hal ini tentunya bukan mudah, Guru Li mengajariku untuk menggunakan hati yang paling tulus untuk mengundang datangnya mujizat. Jika anda tidak memiliki ketulusan maka takkan memperoleh mujizat. Tentu saja bila ada yang bersedia keluar berceramah maka kami tak perlu lagi berceramah; karena tidak ada yang berceramah barulah kami membangkitkan niat untuk keluar memberikan ceramah, dengan terpaksa menanggung beban berat ini. Sudah 41 tahun ( jika dihitung tahun 2013 berarti telah 55 tahun berceramah --- red) saya berada di atas podium, rata-rata perhari berceramah 2 jam, barulah ada sedikit kemajuan, dapat menyediakan referensi belajar bagi anda semuanya.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com