Sariputta | Melafal Amituofo 24 Sariputta

Melafal Amituofo 24

Tanya Jawab Seputar Melafal Amituofo

👁 1 View
2017-09-18 11:08:50

Pertanyaan :

“Mengendalikan enam landasan indria, dengan pikiran suci melafal Amituofo berkesinambungan”, “mengingat dan melafal Amituofo, saat kini atau masa mendatang pasti bertemu dengan Buddha”, apakah ini adalah pelafalan Amituofo tanpa rupa, apakah cara melatih diri sedemikian dibenarkan?

Master Chin Kung Menjawab :

Kalimat sutra ini berasal dari “Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta melafal nama Buddha dengan sempurna tanpa rintangan” , hanya saja dikhawatirkan anda salah menafsir maknanya. Yang diungkapkan di sini bukanlah pelafalan Amituofo tanpa rupa, tidak berkaitan dengan rupa maupun arupa, ini adalah prinsip-prinsip yang  membimbing kita dalam melafal Amituofo.

“Mengendalikan enam landasan indria”, yakni menyimpan kembali, jangan dibiarkan berkeliaran di luar memaksakan kehendak. Misalnya mata kita suka melihat rupa, melihat benda yang disukai maka ingin memandangnya lebih lama. “Mengendalikan” berarti menyuruh untuk menyimpan kembali penglihatan anda, jangan melihat kondisi di luar. Bukan menyuruhmu tidak boleh melihat sama sekali, tetapi tidak perlu melihat terlalu banyak, memandang secara sekilas saja sudah cukup, karena bila terlalu banyak melihat bisa timbul keserakahan, timbullah nafsu keinginan.

Telinga juga jangan terlalu banyak mendengar, lidah juga jangan terlalu banyak mengecap.

Enam landasan indria dapat mengadakan kontak dengan kondisi luar, namun  tidak boleh sampai timbul ketamakan, kebencian, kebodohan dan keangkuhan, tidak boleh ada keinginan untuk mengendalikan dan menguasai, ini adalah mengendalikan enam landasan indria, tujuannya agar pikiranmu jadi suci, inilah maknanya.

Buddha dan Bodhisattva mengajari kita, enam indria jangan diarahkan keluar dan memaksakan kehendak, harusnya mengarahkannya ke dalam menjalin jodoh Dharma. Mengarahkan ke dalam berarti mengarahkannya kepada Jiwa Sejati. Bodhisattva Avalokitesvara menggunakan cara ini.

“Dengan pikiran suci melafal nama Buddha berkesinambungan”, ini adalah intisari dari metode pelafalan Amituofo. Pikiran suci adalah tidak memiliki khayalan, tidak ada bentuk-bentuk pikiran, tidak ada perbedaan, tidak ada kemelekatan, melepaskan semua kemelekatan, hati ini adalah hati suci; dengan pikiran sedemikan melafal Amituofo.

Dengan perkataan lain, di dalam pikiran suci pasti takkan ada bentuk-bentuk pikiran, di dalam hati hanya ada sepatah Amituofo saja, selain sepatah Amituofo ini, takkan bercampur baur dengan benda apapun. Maka itu, ini bukanlah membahas tentang pelafalan Amituofo tanpa rupa, tetapi membahas tentang intisari dari pelafalan Amituofo.

Tak peduli kita melafalnya dengan suara keras atau suara kecil atau melafalnya di hati, pastikan untuk tidak timbul bentuk-bentuk pikiran lainnya, inilah yang disebut niat pikiran yang suci. “Berkesinambungan” artinya lafalan menyambung lafalan, tidak terputus.

“Mengendalikan enam landasan indria, dengan pikiran suci melafal Amituofo berkesinambungan”, dua kalimat ini adalah tidak curiga, tidak terpencar, tidak terputus.

Bagaimana caranya untuk mempertahankan ketrampilan melafal Amituofo? Yakni tidak curiga, tidak terpencar dan tidak terputus. Dengan demikian mengingat dan melafal Amituofo, saat kini atau mendatang pasti bertemu Buddha, ini adalah buah akibat“.

 “Mengendalikan enam landasan indria, dengan  pikiran suci melafal Amituofo berkesinambungan” adalah benih sebab, dengan melatih benih ini maka akan memperoleh buah “saat kini atau mendatang pasti bertemu Buddha”,  ini adalah prinsip penting dari melafal Amituofo. Semua cara pelafalan Amituofo tak terpisahkan dari prinsip ini.

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com