Kebiasaan Merokok

Tanya Jawab Bhikkhu Uttamo

👁 1 View
2017-09-22 10:53:49

Dari: Hendra, Jakarta

Namo Buddhaya.
Saya mempunyai kebiasaan merokok semenjak saya berada di tingkat 3 SMU sampai
sekarang. Sekarang saya mulai serius memahami paritta dan berusaha menjalankannya
dalam kehidupan saya. Saya juga melakukan meditasi.
Sebelumnya, saya sering membaca paritta di vihara dan melaksanakan kebaktian umum
secara rutin. Tapi sekarang saya sudah tidak melakukan kebaktian umum. Saya hanya
membaca paritta di rumah saja.
Saya belum mau membaca Pancasila Buddhis karena kebiasaan saya merokok tadi. Saya
sadar saya belum bisa terlepas dari kebiasaan saya tersebut.
Yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah saya salah dengan tidak membaca Pancasila Buddhis hanya karena kebiasaan
saya merokok ?
2. Apakah saya boleh membaca dan merenungi paritta tsb hanya untuk mengurangi
kebiasaan merokok saya ataupun saya tetap merokok sementara saya menjalankan isi
paritta tsb ?
3. Apakah paritta tsb merupakan pengukuhan janji seorang Buddhis ?
Mohon agar Bhante menerangi bathin ini, agar saya dapat menjalankan sila dan berjalan
dalam Dhamma.
Terima kasih Bhante.


Jawaban:
1 & 2. Dalam pengertian Buddhis, paritta adalah sebagian dari keseluruhan kotbah Sang
Buddha yang biasa disebut dengan sutta. Adapun Pancasila Buddhis termasuk patha atau
kalimat.
Tentu telah diketahui bersama bahwa Pancasila Buddhis berisi latihan untuk
menghindari tindak pembunuhan, menghindari tindak pencurian, menghindari tindak
pelanggaran kesusilaan, menghindari tindak kebohongan serta menghindari tindak
mabuk-mabukan.
Pengertian 'mabuk' dalam sila kelima, lebih diarahkan pada tindakan yang dapat
menghilangkan kesadaran seseorang, misalnya karena pengaruh alkohol ataupun narkoba
dalam waktu belakangan ini.
Merokok sebenarnya tidak termasuk dalam pelanggaran sila kelima tersebut. Namun,
adanya niat untuk mengendalikan diri dari kemelekatan serta kebiasaan merokok adalah
niat baik sebagai upaya latihan pengendalian diri sekaligus meningkatkan kesehatan
tubuh.
Sedangkan sikap tidak membaca Pancasila Buddhis walaupun bukan merupakan
kesalahan, tetapi dianggap kurang bijaksana. Justru sebaiknya Pancasila Buddhis perlu
lebih sering dibaca dan direnungkan isinya. Dengan demikian, lama kelamaan dalam
batin akan timbul dorongan untuk melaksanakan Pancasila Buddhis dengan lebih
sungguh-sungguh. Kesungguhan ini kemudian dibuktikan dengan mengurangi bahkan
menghentikan kebiasaan merokok yang sudah dimiliki sejak remaja tersebut.

3. Dalam Agama Buddha tidak dibiasakan adanya janji-janji dengan fihak manapun juga.
Agama Buddha lebih menekankan adanya tekad untuk melakukan sesuatu, misalnya
melaksanakan Ajaran Sang Buddha.
Pancasila Buddhis berisikan tekad umat Buddha untuk berusaha memperbaiki perilaku
badan dan ucapan agar sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Dengan melaksanakan tekad
ini, diharapkan umat Buddha menjadi orang yang terbebas dari kesalahan pada diri
sendiri maupun lingkungan. Kebebasan dari kesalahan ini akan dapat memberikan
ketenangan batin. Ketenangan batin selanjutnya menjadi dasar pelaksanaan meditasi atau
konsentrasi pikiran yang lebih bersemangat hingga tercapainya kebebasan dari
ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
Semoga jawaban ini bermanfaat.
Salam metta,
B. Uttamo
---------------------------------------------

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com