Bhikkhu Lepas Jubah

Tanya Jawab Bhikkhu Uttamo

👁 1 View
2017-09-26 14:34:09

Dari: Irvyn, Jakarta

Namo Buddhaya,
Bagaimana sikap kita sebagai seorang umat Buddha dalam berhadapan dengan mantan
bhikkhu yang sudah lepas jubah ?
Saya sedih dan juga kecewa ketika ada seorang bhante yang cukup dihormati akhirnya
lepas jubah. Sedih bukan karena keputusan bhante untuk lepas jubah, tetapi lebih kepada
sikap dan tanggapan para umat di vihara saya terhadap mantan bhante tersebut.
Secara kasar ada juga yang sempat menghina, menggosipi yang bukan-bukan, sedih,
kecewa, menghubungi dengan hukum ketidakkekalan, dsb. Walaupun ada juga yang
hanya bersikap netral.
Setahu saya kalau di negara Buddhis seperti Thailand, bhikkhu lepas jubah adalah hal
yang wajar dan terjadi sehari-hari. Tetapi sepertinya kalau di Indonesia agak sedikit beda
responnya.
Anumodana Bhante atas masukannya.

Jawaban:
Di Indonesia jumlah bhikkhu tidak terlalu banyak. Oleh karena itu, setiap bhikkhu
mendapatkan perhatian yang lebih banyak dari umat maupun simpatisan Buddhis
dibandingkan dengan para bhikkhu yang tinggal di negara Buddhis.
Perhatian yang sedemikian besar itulah yang menyebabkan harapan umat Buddha juga
terlalu tinggi terhadap para bhikkhu. Akibatnya, ketika ada bhikkhu lepas jubah dan
kembali menjadi umat biasa, banyak umat Buddha yang sangat kecewa. Sebagian dari
umat yang kecewa ini kadang kurang mampu mengendalikan pikiran, ucapan dan
perbuatannya. Mereka mempergunjingkan mantan bhikkhu tersebut di setiap kesempatan
dengan kata-kata yang kasar atau bahkan menghina.

Padahal, seharusnya semua umat Buddha menyadari bahwa bhikkhu lepas jubah karena
berbagai alasan pribadi adalah hal yang biasa. Wajar dan sesuai dengan hukum alam
yaitu tidak kekal. Istilah bhikkhu lepas jubah ini kalau dalam bahasa masyarakat umum
sering disebut denga 'alih professi'. Sama dengan orang yang semula pedagang kemudian
menutup usahanya dan kerja mengikuti perusahaan tertentu, atau sebaliknya. Tidak ada
yang perlu dipergunjingkan tentang alih professi ini. Biasa-biasa saja. Namun, karena
bhikkhu termasuk 'langka', maka tentu masalah lepas jubah menjadi sangat menarik untuk
dibicarakan di berbagai tempat pertemuan. Hanya saja, untuk para umat yang sudah sadar
dan mengerti tentang konsep ketidakkekalan serta prinsip 'alih professi' ini kiranya tidak
perlu menanggapi pergunjingan tersebut. Ia hendaknya bersikap netral saja.

Adapun terhadap mantan bhikkhu, umat hendaknya tetap menganggap dia sebagai
sesama umat, bukan sampah masyarakat yang harus dijauhi ataupun dimusuhi. Di
beberapa tempat, mantan bhikkhu malah sering dianggap sebagai pandita atau orang yang
lebih mengerti tentang Agama Buddha. Dengan demikian, ia hendaknya diberi
kesempatan untuk membagikan pengertian Dhamma atau ceramah Dhamma kepada umat
Buddha di vihara terdekat. Dengan memberikan kesempatan kepadanya, dengan
menerima dia sebagaimana adanya, maka ia tentu tidak merasa canggung untuk sering
datang ke vihara. Ia mungkin dapat membaktikan kemampuannya dengan cara yang
berbeda demi kebahagiaan umat serta simpatisan Buddhis di lingkungannya.
Sebaliknya, kalau ia dipandang rendah dan sinis oleh umat Buddha di vihara tertentu,
maka ia tentu akan enggan untuk hadir di tempat tersebut. Kondisi ini jelas kurang
menguntungkan untuk umat dan simpatisan Buddhis di sekitar ia tinggal maupun Agama
Buddha secara keseluruhan.

Semoga penjelasan ini dapat memberikan pengertian yang benar dalam menyikapi para
mantan bhikkhu yang ada di masyarakat.
Semoga selalu berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo
---------------------------

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com