Sariputta | Bagaimana pandangan agama Buddha tentang agama lain ? Sariputta

Bagaimana pandangan agama Buddha tentang agama lain ?

Tanya Jawab Bhikkhu Uttamo

👁 1 View
2017-09-20 15:28:17

Dari: Dedy, Mataram

Namo Buddhaya Bhante,
Saya ingin tanya :
Bagaimana pandangan agama Buddha tentang agama lain ?
Terima kasih Bhante.

Jawaban:
Adalah kenyataan indah bahwa umat Buddha hidup dan tinggal berdampingan dengan
umat beragama lain bahkan dengan mereka yang tidak beragama sekalipun.
Menyikapi kondisi tersebut, umat Buddha hendaknya mampu bertindak bijaksana. Umat
Buddha haruslah menyadari bahwa dasar seseorang memilih suatu agama adalah karena
kecocokan, bukan karena ia telah membuktikan kebenaran agama yang telah ia pilih dan
kesalahan agama yang tidak ia pilih. Kebenaran suatu agama sesungguhnya sulit untuk
dibuktikan.
Salah satu contoh sederhana tentang hal itu adalah keyakinan bahwa ketika meninggal
dunia, seseorang dengan agama tertentu akan terlahir di surga. Keyakinan ini timbul
hanya karena ada pernyataan dalam kitab suci suatu agama, bukan karena pengalaman
pribadi mereka yang menjalankan agama tersebut. Oleh karena itu, hingga saat ini,
kiranya belum pernah terjadi ada orang yang telah meninggal dunia kemudian ia hidup
kembali untuk menceritakan kepada kerabatnya tentang pengalaman ketika ia berada di
surga dengan bekal agama tertentu dan ia kemudian berpamitan untuk meninggal lagi.
Dengan demikian, pemahaman akan surga setelah meninggal dunia ini lebih banyak
berdasarkan kepercayaan belaka. Kalau memang demikian halnya, tentu tidak seharusnya
terdapat orang-orang yang berusaha menjelekkan agama lain atau mempertentangkan
kebenaran isi kitab suci agama masing-masing dengan tujuan untuk menarik umat
sebanyak-banyaknya ke dalam agamanya.
Jadi, dalam pandangan Agama Buddha, setiap orang mempunyai hak penuh untuk
memilih agama yang paling sesuai dan cocok dengan dirinya. Suatu agama disebut cocok
apabila setelah seseorang mengikuti agama tersebut ia kemudian menjadi orang yang
lebih baik dalam bertindak, berbicara maupun berpikir. Semakin lama ia mengikuti
agama tersebut, semakin baik dan bermoral pula perilakunya.
Menyadari bahwa agama adalah untuk memperbaiki perilaku seseorang, maka tentu tidak
ada satu fihakpun yang berhak mengagamakan orang lain yang telah beragama. Biarlah
setiap orang mempunyai kebebasan dalam menentukan agama sebagai pedoman
hidupnya.
Semoga jawaban ini dapat menjadi bahan pertimbangan umat Buddha dalam bersikap
layak di tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai pemeluk agama.

Semoga selalu berbahagia.
Salam metta,
B. Uttamo

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com