Kewajiban Seorang istri

👁 1 View
2018-11-29 09:01:22

Atas perlakuan yang diterimanya dari seorang suami yang baik, berdasarkan Sigalovada Sutta maka seorang isteri yang mencintai suaminya mempunyai kewajiban sebagai berikut: 
1. Melakukan semua tugas kewajibannya dengan baik 
2. Bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak 
3. Setia kepada suaminya 
4. Menjaga baik-baik barang-barang yang dibawa oleh suaminya 
5. Pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya 

(Digha Nikaya III, 190) 

Adalah merupakan hal yang pantas dipuji apabila setiap isteri berusaha untuk memenuhi 5 ciri isteri yang sempurna, yaitu : 
1. Bangun lebih dahulu dari suaminya 
2. Pergi tidur setelah suami tertidur 
3. Selalu mematuhi perintah suaminya 
4. Selalu bersikap ramah dan sopan 
5. Dari mulutnya hanya keluar kata-kata yang ramah. 

(Anguttara Nikaya IV, 265) 

Telah dicatat bahwa disamping menjadi isteri dengan 5 ciri di atas, Ratu Mallika juga bertekad agar batinnya terbebas dari iri hati dan cemburu. 

(Anguttara Nikaya II, 205) 

Kepada Sujata, adik perempuan dari Maha Upasika Visakha, yang menjadi menantu dari Maha Upasaka Andthapindika, Sang Buddha telah berkotbah mengenai tujuh jenis isteri dari segala zaman sebagai berikut : 
1. Seorang isteri yang jahat, mempunyai keinginan buruk, kejam/bengis mencintai pria lain, suka melacur, selalu berbeda pendapat dengan suaminya, selalu mencari alasan untuk bertengkar disebut sebagai isteri yang menyusahkan (vadhakhabhariya) 
2. Seorang isteri yang suka menghamburkan kekayaan yang diperoleh suaminya dengan susah payah, tidak mau berpikir, suka menggelapkan harta benda suaminya untuk kepentingannya sendiri, untuk berjudi dan bermabuk-mabukan, disebut sebagai isteri pencuri (corabhariya) 
3. Seorang isteri yang tidak mau berbuat apapun, malas, rakus, kasar, suka mencaci maki, selalu ingin berkuasa, ingin menguasai suaminya, mengambil kesempatan dari kedudukan suaminya untuk menonjolkan dirinya, selalu ingin menang sendiri, disebut sebagai isteri penguasa (ayyabhariya); 
4. Seorang isteri yang ramah dan penuh welas asih, merawat suaminya seperti seorang ibu yang melindungi anaknya, menjaga harta yang telah dikumpulkan oleh suaminya dengan teliti dan hati-hati, disebut sebagai isteri keibuan (matubhariya); 
5. Seorang isteri yang menghormati suaminya seperti seorang adik perempuan yang patuh terhadap kakaknya, bersikap rendah hati, hidup sesuai dengan keinginan suaminya, disebut sebagai isteri saudara (bhaginibhariya) 
6. Seorang isteri yang bergembira ketika melihat suaminya bertemu dengan teman baik yang lama tidak berjumpa, terhormat, baik hati, selalu menolong dan suci, sebagai isteri sahabat (sakhibhariya); 
7. Seorang isteri yang tidak marah dan tetap sabar/tenang meskipun diancam dengan siksaan dan hukuman, mengerjakan semua tugas yang diberikan suaminya tanpa 
mengeluh, bebas dari kebencian, hidup sesuai dengan kehendak suaminya, disebut sebagai isteri yang melayani (dasibhariya). 

(Anguttara Nikaya IV, 92) 

Setelah mendengar kotbah diatas Sujata batinnya menjadi sadar lalu mencapai tingkat kesucian yang pertama (Sotapanna). Atas pertanyaan Sang Buddha Sujata memilih 
menjadi dasibhariya bagi suaminya. Sang Buddha menjelaskan bahwa para isteri dari tiga jenis yang pertama adalah buruk dan tidak dikehendaki oleh suami manapun dan 
kelak akan terlahir di neraka, akan mengalami penderitaan yang tidak terhingga, terpanggang oleh api neraka.

Sedangkan empat jenis isteri yang berikutnya adalah baik dan patut dipuji, mereka akan berbahagia dalam kehidupan sekarang ini dan setelah kematian akan terlahir 
di alam-alam surga yang berbahagia. Ketika Visakha ingin menikah, ayahnya memberikan nasehat sebagai berikut (Lihat Dhammapada Atthakatha, Buddhist Legends jilid 
II halaman 72-73) : 
1. Jangan membawa keluar api yang berada di dalam rumah (Api di sini berarti fitnah. Seorang isteri seharusnya tidak menceritakan keburukan suami atau mertuanya kepada orang lain, demikian pula tidak menceritakan kekurangan-kekurangan atau pertengkaran dalam keluarga kepada orang lain) 
2. Jangan memasukkan api dari luar ke dalam rumah (Seorang isteri seharusnya tidak mendengarkan hasutan-hasutan atau gosip dari keluarga-keluarga lain dan membawanya ke dalam rumah) 
3. Memberi hanya kepada mereka yang memberi (Hanya meminjamkan sesuatu kepada mereka yang mau mengembalikan) 
4. Jangan memberi kepada mereka yang tidak memberi (Jangan meminjamkan sesuatu kepada mereka yang tidak akan mengembalikan barang yang dipinjam) 
5. Memberi kepada mereka yang memberi dan tidak memberi (Menolong orang-orang miskin atau kawan-kawan tanpa memperdulikan apakah mereka akanmengembalikan atau tidak) 
6. Duduk dengan bahagia (Duduk pada posisi yang sesuai, apabila mertua datang menghampiri ia harus berdiri untuk menghormat) 
7. Makan dengan bahagia (Sebelum makan seorang isteri terlebih dahulu mempersiapkan segala hidangan untuk mertua dan suaminya, di samping memperhatikan juga kebutuhan makanan dari para pembantu rumah tangga) 
8. Tidur dengan bahagia (Sebelum tidur memeriksa dahulu apakah pintu-pintu dan jendela-jendela sudah ditutup atau belum, apakah masih ada api yang menyala di dapur, apakah ada bahaya yang mungkin mengancam keselamatan keluarga, apakah para pembantu telah menyelesaikan tugasnya, apakah mertua dan suaminya sudah tidur atau belum. Kemudian bangun pagi-pagi sekali dan tidak akan tidur siang kecuali sedang sakit) 
9. Rawatlah api dalam rumah (Rawatlah mertua dan suami dengan baik, seperti merawat api di dapur dan api merawat kita di dapur) 
10. Hormatilah dewata keluarga (Mertua dan suami dipandang sebagai dewata yang patut untuk dihormati) 
Menurut tradisi timur, seorang isteri wajib memandang suami sebagai “yang dipertuan”. 

Sang Buddha pernah bersabda bahwa isteri juga adalah sahabat karib dan dewa penolong dari suaminya, oleh karena itu ia pantas untuk diperlakukan dengan baik dan dicintai oleh suaminya .
Semoga aku bisa jadi istri dan ibu yang selalu bijaksana..taat akan ajaran sang buddha,dan hidup selalu dalam dhamma.,sadhu..sadhu..sadhu

https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/tuntunan-perkawinan-dan-hidup-berkeluarga-dalam-agama-buddha/

Kritik dan saran,hubungi : cs@sariputta.com